Kamis, 31 Maret 2016

Paradigma pembelajaran yang terpusat pada siswa


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang tak kalah pentingnya dalam berlangsungnya kehidupan yang layak bagi manusia. Karena pendidikan merupakan kebutuhan sekunder dalam kehidupan sehari-hari.tanpa pendidikan yang memadai kehidupan manusia akan tersa berat untuk bersaing dengan keadaan zaman yang serba modern ini. Kita sebagai generasi muda dituntut untuk mengembangkan pola hidup yang berpedoman pada landasan atau dasar Islam yaitu Fiqih. Agar pembelajaran fiqih tidak terlalu monotone dengan pembelajaran yang mengandalkan metode ceramah. Model pembelajaran yang berpusat pada siswa masih sering kita temukan dilembaga sekolah, siswa sebagai obyek dan tidak diajak aktif,dan berinteraksi timbal balik, sehingga siswa merasa jenuh dan bosan.
Guru adalah sebagai fasilitator, sehingga siswa merasa dilayani dan diajak aktif dalam pembelajaran. Karena pendidikan yang berkarakter menyenangkan akan lebih mudah diterima dan dicerna oleh siswa, maka dari itu profesionalisme guru sangat di butuhkan di era sekarang ini. Sehingga paradikma pembelajaran fiqih dapat dilakukan dengan pembaharuan sehingga akan tercapai kompetensi dasarnya.

B.  Rumusan masalah
Sebagaimana diuraikan diatas, maka dalam makalah ini akan membahas beberapa masalah tentang:
1.      Bagaimana Paradigma pembelajaran yang  terpusat pada murid?
2.      Bagaimana menurut teori Character Building?
3.      Apakah efektif dengan Penambahan jam pelajaran?
4.      Bagaimana Dalam pemilihan metode?
 BAB II
PEMBAHASAN

A.    Paradigma Pembelajaran Yang Terpusat Pada Murid
Paradigma secara etimologis berasal dari bahasa Inggris Paradigm  berarti type of something, model, pattern (bentuk sesuatu, model, pola) sedangkan secara terminologis berarti a total view of problem; a total outlook not just a problem in isolation, secara sederhana diartikan sebagai cara pandang, cara berfikir. Dengan demikian yang dimaksud paradigma adalah cara berfikir atau sketsa pandang menyeluruh yang mendasari rancang bangun suatu sistem pendidikan.
Perubahan paradigma pembelajaran dari teacher centered menjadi learned centered, memposisikan guru bertindak sebagai fasilitator dan pengetahuan lebih banyak dibangun oleh siswa serta perolehan pengetahuan lewat komunikasi (siswa aktif guru juga aktif).
Ada beberapa karakteristik anak di usia madrasah ibtidaiyah yang perlu diketahui oleh guru, agar lebih mengetahui dan memahami keadaan siswa. Bukan hanya itu pemahaman yang tepat mengenali kondisi anak dan perkembangannya, baik yang menyangkut potensi dan keterbatasannya, akan menentukan pilihan strategi dan metode pembelajaran yang memadai.
Pembahasan tentang metode pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa, salah satunya adalah metode kerja kelompok. Metode tersebut dapat penulis kaji dalam uraian berikut :
a.    Pengertian
Sagala (2006) mengatakan bahwa metode kerja kelompok adalah cara pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk Strategi Pembelajaran 7-3 mempelajari materi pelajaran yang telah ditetapkan untuk diselesaikan secara bersama-sama. Pada umumnya materi pelajaran yang harus dikerjakan secara bersama-sama dalam kelompok itu diberikan atau disiapkan oleh guru. Materi itu harus cukup kompleks isinya dan cukup luas ruang lingkupnya sehingga dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang cukup memadai bagi setiap kelompok. Materi hendaknya membutuhkan bahan dan informasi dari berbagai sumber untuk pemecahannya. Masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan membaca satu sumber saja tentu tidak cocok untuk ditangani melalui kerja kelompok. Kelompok dapat dibentuk berdasarkan perbedaan individual dalam kemampuan belajar, perbedaan bakat dan minat belajar, jenis kegiatan, materi pelajaran, dan tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan tugas yang harus diselesaikan, siswa dapat dibagi atas kelompok paralel yaitu setiap kelompok menyelesaikan tugas yang sama, dan kelompok komplementer dimana setiap kelompok berbeda-beda tugas yang harus diselesaikan.
b.    Tujuan
 Metode kerja kelompok yang digunakan dalam suatu strategi pembelajaran bertujuan untuk:
1.   memecahkan masalah pembelajaran melalui proses kelompok
2.   mengembangkan kemampuan bekerjasama di dalam kelompok
c.    Alasan Penggunaaan Metode Kerja Kelompok
Guru menggunakan metode kerja kelompok dalam pembelajaran karena:
1.        Kerja kelompok dapat mengembangkan perilaku gotong royong dan demokratis.
2.        Kerja kelompok dapat memacu siswa aktif belajar.
3.        Kerja kelompok tidak membosankan, siswa melakukan kegiatan belajar diluar kelas bahkan diluar sekolah yang bervariasi, seperti observasi, wawancara, cari buku di perpustakaan umum, dan sebagainya.
d. Kekuatan dan Keterbatasan Metode Kerja Kelompok
 1) Kekuatan Metode Kerja Kelompok
¨    membiasakan siswa bekerja sama, musyawarah dan bertanggung jawab
¨      menimbulkan kompetisi yang sehat antar kelompok, sehingga membangkitkan kemauan belajar yang sungguh-sungguh.
¨       Guru dipermudah tugasnya karena tugas kerja kelompok cukup disampaikan kepada para ketua kelompok.
¨      Ketua kelompok dilatih menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, dan anggotanya dibiasakan patuh pada aturan yang ada.
2) Kelemahan Metode Kerja Kelompok
Ø Sulit membentuk kelompok yang homogen baik segi minat, bakat, prestasi maupun intelegensi.
Ø Pemimpin kelompok sering sukar untuk memberikan pengertian kepada anggota, menjelaskan, dan pembagian kerja
Ø Anggota kadang-kadang tidak mematuhi tugas-tugas yang diberikan pemimpin kelompok
Ø Dalam menyelesaikan tugas, sering menyimpang dari rencana karena kurang kontrol dari pemimpin kelompok atau guru.
Ø Sulit membuat tugas yang sama sulit dan luasnya terutama bagi kerja kelompok yang komplementer.
B.       Pembelajaran Fiqih berbasis Character Building
Character building atau pembentukan karakter pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak sangatlah penting. Melalui pembentukan karakter yang tepat, siswa akan memiliki tumbuh kembang yang baik, terutama perkembangan mentalnya. 

Pendidikan karakter dalam pembelajaran fiqih adalah merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai yang diajarkan kepada anak didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia dan lingkungannya sehingga menjadi manusia paripurna (insan Al-Kamil)
Penerapan pendidikan dan pembentukan karakter dapat dilakukan di madrasah ibtidaiyah pada pembelajaran fiqih dengan beberapa cara.  Berikut yang bisa diterapkan agar pembentukan Character building untuk siswa bisa tercapai, seperti yang dituliskan oleh soffy wibowo, diantaranya yaitu:
·   Selalu berusaha dan bekerja keras.          
Tanamkan pentingnya Man yasra’, yahshud. ‘Siapa menanam, pasti mengetam.’ Kalau ingin mendapatkan sesuatu, harus ada upaya untuk memperolehnya. Hal ini mengajarkan pada anak didik agar bekerja keras untuk mencapai cita-cita dan impiannya. Sehingga anak tidak akan terjerumus pada tindakan instan yang curang dan atau menghalalkan segala cara. Misalnya, menyontek atau beli soal ujian.
·  Selalu optimis.           
Katakan Man jadda wajada, kesungguhan adalah kunci keberhasilan. Jika kita kita bersungguh-sungguh dalam berusaha, pasti kita akan berhasil. Hal jaza’ul ihsan illal ihsan, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. Kuatkan anak dengan kalimat optimis: Kehendak Allah mengikuti prasangka hambaNya; Allah tidak pernah tidur; Balasan Allah tidak akan salah alamat.
·   Perintah dan Larangan.          
Perintah dan larangan hanya bantuan sederhana dalam menolong siswa melakukan kebaikan dan menghindari kesalahan. Sebenarnya yang paling penting adalah menanamkan kesadaran pentingnya sebuah tindakan kebaikan dilakukan. Misal, anak perlu tahu mengapa harus bersuci sebelum salat. Setelah itu pemahaman dan penyadaran tentang kebaikan tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
·       Adaptasi dan Bergaul.           
Adaptasi siswa sangatlah penting. Biasakan anak didik tersenyum dan mengucap salam kepada tamu meski belum dikenal. Ajari juga segera menyapa lebih dulu pada teman yang baru dijumpai atau menyapa sambil lewat. Hal ini membuat anak didik memiliki skill beradaptasi dan bergaul.
·       Tekun dan Tabah.           
Tanamkan sifat tekun dan tabah dalam melakukan kegiatan-kegiatan baik kegiatan dalam pembelajaran maupun ibadah.
·       Pengendalian diri.           
Latih kemampuan mengendalikan diri dengan bersikap sabar dan selalu bersyukur. Dalam Islam kedua sifat ini akan mengangkat derajat orang sebagai ahli surga. Demikian pula kedua sifat ini membentuk kebahagiaan sejati sebagaimana teori psikologi positif. Cara yang bisa digunakan adalah dengan menjauhkan anak didik dari sumpah serapah, tidak sering mengeluh, sabar mengantri, mengajari berbagi dan membaca fenomena orang lain yang lebih susah. 
·       Bijak dan Sopan Santun.           
Membiasakan bijak dalam bicara, santun dalam bertindak dan baik dalam bersikap. Latih siswa berbicara dengan baik (thayyibul kalam), sebagaimana tercantum dalam QS Thaha : 44, “Maka berbicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lembut.” Selain itu ajari anak berbaik sangka (khusnudhan), memiliki pikiran positif, berperasaan positif dan proaktif.
C.      Wacana Penambahan Jam Pelajaran
Semakin majunya zaman maka semakin banyak persoalan yang dihadapi oleh manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Wacana penambahan jam pelajaran siswa di sekolah dari 26 jam/minggu menjadi 30 jam/minggu memunculkan polemik, bagi kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemdikbud) penambahan jam pelajaran bertujuan untuk menambah pendidikan moral dan pendidikan karakter. Hal ini dianggap sebagai solusi untuk meningkatkan nilai karakter peserta didik. Sementara Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai rencana tersebut akan semakin menambah beban para guru, sebab selama ini guru sudah terbebani dengan syarat mengajar didepan kelas selama 24 jam selama seminggu. Belum lagi kewajiban dalam membuat bahan ajar, membuat rencana pengajaran, melakukan penilaian dan pengayaan materi yang semua itu bukan pekerjaan mudah.
Mendikbud merencanakan penambahan jam pelajaran formal, kebijakan tersebut baru didiskusikan dengan para pakar pendidikan, apakah kebijakan tersebut dapat berpengaruh positif terhadap dunia pendidikan? Inilah pertanyaan yang harus dijawab, jangan sampai mengulang kesalahan yang sudah dilakukan, dimana pendidikan karakter yang direncanakan kemudian dipertentangkan dengan ujian nasional yang berdampak negatif terhadap kebijakan pendidikan karakter.
Penambahan jam formal adalah penambahan jam pelajaran di sekolah, yang nanti menjadi tantangan dari kebijakan yang diwacanakan adalah:
1.    Pengaktifan siswa agar mau belajar lebih lama
2.    Para pendidik yang tidak mampu mengemas materi dengan baik
3.    Suasana yang tidak kondusif yang terjadi di beberapa sekolah
4.    Pembiayaan sekolah yang bertambah
Ini baru menjadi beberapa hal yang menjadi tantangan dan mungkin masih banyak lainnya. Dimana melihat background dari setiap siswa, tiap daerah dan sebagainya yang memiliki ciri khas tersendiri.
Positifnya dari penambahan jam adalah:
1.      Pengawasan siswa lebih mudah dalam perilaku
2.      Jam pelajaran agama terutama fiqih menjadi lebih banyak
3.      Pemenuhan jam bagi pendidik yang sertifikasi
4.      Penilaian afeksi yang lebih mendalam.
Dari kesemua hal tersebut perlu dipikirkan lebih mendalam lagi dengan melihat realitas yang ada di dalam negeri ini sehingga kebijakan tersebut bisa langsung mengena pada proses pembelajaran yang di laksanakan. 
D.    Pemilihan  Metode
Agar psoses belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik dan mencapai sasaran, maka salah satu faktor penting yang harus diperhatikan adalah menentukan cara mengajarkan bahan pelajaran kepada siswa dengan memperhatikan tingkat kelas, umur, dan lingkungannya tanpa mengabaikan faktor-faktor lain. Banyak metode yang digunakan dalam mengajar. Untuk memilih metode-metode mana yang tepat digunakan dalam menyampaikan materi pelajaran, terlebih dahulu penulis akan menyebutkan macam-macam metode pembelajaran. Menurut Nana Sujana, metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran diantaranya yaitu: Metode keteladanan, ceramah, tanya jawab, diskusi, kooperatif, pemberian tugas, demonstrasi, karyawisata, eksperimen, bermain peran.
1.    Metode keteladanan
Dalam pembelajaran, khususnya dalam fikih, metode peneladanan sangat efektif bagi keberhasilan mengajar. Metode ini dilakukan untuk memberikan teladan [modeling] pelaksanaan agama didepan siswa. Para Rosul dan Ulama menggunakan metode ini dalam mengajarkan agama. Metode ini digunakan setiap kesempatan. Dengan metode ini guru menjadi teladan dalam kebersihan dan kesucian diri, peribadatan dan sikap yang baik.
2.    Metode ceramah,
Metode ceramah adalah metode penyampean materi ajar yang dilakukan guru secara verbal [lisan] didalam kelas. Metode ini dapat digunakan untuk :
  • menyampaikan informasi agar siswa mengetahui sesuatu
  • menerangkan sesuatu
  • menjelaskan dua hal yang berhubungan
  • memberi motifasi kepada siswa untuk melakukan sesuatu
  • menyampaikan pendapat pribadi bia diperlukan
Dalam pembelajaran fiqih metode ini bisa di laksanakan untuk menyampaikan hal-hal yang bersifat teoritis seperti hal-hal yang membatalkan wudhu.
3.    Metode tanya jawab
 Metode tanya jawab adalah metode penyampaian atau pembahasan materi ajar melalui kegiatan tanya jawab antara guru dan murid baik berupa, guru bertanya murid menjawab,atau murid bertanya guru menjawab, bisa juga murid bertanya murid menjawab.
4.      Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah dan mengambil kesimpulan, hal ini dilakukan untuk tujuan sebagai berikut :
a. melatih siswa memecahkan masalah
b. melatih siswa mengambil keputusan atas suatu masalah
c. menimbulkan kesanggupan kepada anak didik untuk meyakinkan orang lain
d. membiasakan anak didik untuk suka mendengarkan pendapat orang lain.
Dalam pembelajaran fiqih, metode ini dapat digunakan, misalnya untuk menyampaikan masalah klilaffiya’ [perbedaan pendapat dalam suatu masalah] atau untuk mendiskusikan cara menerapkan suatu hukum fiqih yang problematis.
5.      Metode pengulangan / hafalan
Dalm pembelajaran fiqih, metode pengulangan dapat digunakan untuk menghafalkan do’a-do’a dan bacaan. bila  digunakkan pada bacaan dan do’a , metode menghafal dapat menggunakan metode asosiasi dan akronim [singkatan kata] untuk mmengingat solat-solat fardhu, dengan tekhnik akronim misalnya anda dapat menggunakan kata I-S-L-A-M yaitu Isya, Subuh, Luhur[dzuhur] Ashar, Maghrib.
6.      Metode Resitasi[pemberian tugas ]
Dengan metode ini guru menggunakan pemberian tugas misalnya PR sebagai cara atau alat untuk: mengaktipkan siswa dalam belajar mandiri dan membuat anak rajin dalam melakukan latihan, sebagian besar materi fiqih dapat disampaikan dengan metode ini, misalnya tugas menghafal do’a-do’a dan bacaan sholat.
7.      Metode demonstrasi,
Metode demontrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Dalam pembelajaran fiqih metode demontrasi diantaranya dapat digunakan untuk melatih gerakan wudhu, sholat dan haji.
8.      Metode kisah / cerita
Metode cerita sangat disenangi oleh anak didik, metode ini dapat digunakan untuk menyentuh rasa anak didik. Dalam  pembelajaran fiqih metode ini berguna menyampaikan hikmah-hikmah suatu perbuatan atau untuk membangkitkaan perasaan  khouf [takut], ridlo dan cinta pada Allah SWT, juga mengarahkan seluruh perasaan  siswa sehingga bertumpuk pada puncak yaitu kesimpulan kisah.
9.      Metode  inquiri
Metode inquiri merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan ekperimen sendiri, metode  ini mengajak anak untuk melakukan sesuatu.menyajikan pertanyaan,mencari jawaban sendiri serta menghubungkan penemuan yang lain. Dalam metode ini dapat diginakan untuk menyelidiki gerekan ibadah, hikmah – hikmah ibadah.
10.                                                    Metode bermain peran
Metode bermain perana adalah cara mengajar dengan mendemontrasikan cara bertingkah laku dalam hubungan sosial. Hal ini dilakukan diantaranya untuk : menerangkan suatu kegiatan yang menyangkut orang banyak,melatih anak didik menyelesaaikan masalah, sosial dan psikologis, melatih anak agar dapat bergaul dengan sikap yang baik. Dalam pembela fiqih metode ini dapat di gunakan, misalnya : menerangkan pembagian zakat fitrah melalui  panitia, menjelaskan prosesi solat jum’at dan mempaktekkannya.
Perlu diingat kembali bahwa banyak metode yang dapat diterapkan, dan apapun yang dipilih sebaiknya dipertimbangkan sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri, tidak boleh hanya karena merasa paling mudah dan karena menyenanginya saja.

BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian diatas, dapat penulis simpulkan bahwa:
-       Paradigma pembelajaran terpusat pada murid adalah sebuah cara pandang pembelajaran yang mana guru bertindak sebagai fasilitator dan pengetahuan lebih banyak dibangun oleh siswa serta perolehan pengetahuan lewat komunikasi (siswa aktif guru juga aktif). Salah satu metode pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa adalah metode kerja kelompok.
-       Pembelajaran Fiqih berbasis Character Building merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai yang diajarkan kepada anak didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia dan lingkungannya sehingga menjadi manusia paripurna (insan Al-Kamil).
-       Wacana Penambahan Jam Pelajaran masih pro dan kontra, oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemdikbud) penambahan jam pelajaran bertujuan untuk menambah pendidikan moral dan pendidikan karakter. Hal ini dianggap sebagai solusi untuk meningkatkan nilai karakter peserta didik. Sementara Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai rencana tersebut akan semakin menambah beban para guru.
-       Banyak metode yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar, diantaranya yaitu: Metode keteladanan, ceramah, tanya jawab, diskusi, kooperatif, pemberian tugas, demonstrasi, karyawisata, eksperimen, bermain peran. Diantara faktor dalam memilih metode yang akan digunakan yaitu memperhatikan tingkat kelas, umur, dan lingkungannya serta mempertimbangkannya sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu, Soli dkk. Strategi Pembelajaran. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. 2008.
Hidayatullah, M.Furqon. Guru Sejati : Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas. Surakarta. Yuma Pustaka. 2009.
Munir, Abdullah. Pendidikan Karakter Membangun Karakter Anak Sejak Dari Rumah. Yogyakarta. 2010.
Nana Sujana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo. 1986.
http://tetesan-ilmuku.blogspot.com/2012/09/wacanapenambahan.pelajaran
http://belajarpsikologi.com/tips-meningkatkan-daya-ingat
http://www.article.blogspot.com/2008/07character.building.html