Selasa, 19 April 2016

Manfaat Jahe


JAHAT!  JAHE SEHAT BERKHASIAT

Jahe merupakan salah satu rempah yang telah lama
dipercaya dan terbukti khasiatnya bagi kesehatan tubuh
manusia, manfaat jahe antara lain:
1.      Melancarkan peredaran darah
      Manfaat jahe yang pertama adalah melancarkan peredaran darah. Gingerol yang terdapat            pada jahe bersifat antikoagulan yang akan mencegah terjadinya penggumpalan darah. Dengan mencegah tersumbatnya pembuluh darah yang merupakan penyebab utama penyakit stroke dan juga serangan jantung.
2.      Perut kembung
Ekstrak jahe bermanfaat bagi yang sering mengalami perut kembung dan nyeri. Jahe dapat dimanfaatkan untuk mengobati gangguan pada pencernaan dan iritasi usus.
3.      Mengobati migrain
Pada sebuah studi menunjukkan jahe dapat menghentikan prostaglandin, yang dimana prostaglandin merupakan salah satu faktor penyebab sakit kepala. Dengan demikian, jahe dapat untuk mengurangi migrain atau sakit kepala sebelah.
4.      Demam dan batuk
Gingerol pada jahe yang sebelumnya sudah dijelaskan dapat melancarkan peredarah darah, kandungan gingerol juga dapat digunakan untuk mengurangi demam dan batuk. Mengkonsumsi jahe berarti menekan timbulnya efek samping seperti yang terkandung dalam kandungan obat-obatan kimia.
5.      Mencegah perut buncit
Dengan mengkonsumsi jahe secara rutin dan sebelum makan dapat mencegah terjadinya perut buncit. Karena jahe bermanfaat untuk melancarkan metabolisme dan pencernaan. Dengan adanya sebuah peningkatan metabolisme tersebut yang berdampak akan mempercepat pembakaran kalori dan meratakan perut buncit.
Jahe dapat untuk merangsang pelepasan hormon adrenalin dan juga dapat memperlebar pembuluh darah, yang dapat mengakibatkan darah mengalir menjadi lebih lancar dan lebih cepat serta dapat meringankan kerja jantung dalam memompa darah.
7.      Menurunkan berat badan
Jahe seperti yang disebutkan diatas bahwa jahe dapat melebarkan pembuluh darah yang membakar kalori menjadi panas tubuh dan jahe hanya mengandung sedikit kalori yang terkandung, sehingga tidak berkontribusi untuk menaikan berat badan. Mengkonsumsi jahe dengan cara membuat wedang setiap hari dapat menjaga kesehatan dan metabolisme tubuh.
8.      Mengobati sakit gigi
Nyeri gusi dan sakit gigi ternyata dapat juga dicegah dengan meminum minuman air jahe. Hal ini karena jahe bersifat antijamur dan antibakteri.
9.      Mencegah siklus menstruasi yang tidak teratur
Manfaat jahe salah satunya dapat bermanfaat untuk menjaga keteraturan siklus menstruasi bagi wanita. Di negeri China misalnya, jahe yang kemudian dicampurkan dengan gula merah dalam teh banyak dikonsumsi untuk mengurangi rasa kram pada saat datang bulan.
10.  Membuat tubuh perkasa
Kandungan senyawa yang terdapat jahe ada yang bersifat inklamasi. Hal ini tentunya efektif dalam hal untuk membangun otot pada bagian tubuh seperti otot pada lengan. Berdasarkan sebuah penelitian bahwa dapat disimpulkan dengan mengkonsumsi jahe secara teratur dan rutin dapat membantu untuk mengurangi rasa sakit yang terjadi pada otot yang disebabkan karena latihan fisik secara berlebihan.
11.  Sebagai obat jerawat
Pada sebuah penelitian yang sebelumnya sudah dilakukan di Universitas Maryland Medical Center, untuk membantu dalam mencegah timbulnya jerawat pada kulit wajah dianjurkan untuk mengkonsumsi jahe maksimal 4 gr/hari.
12.  Obat mabuk perjalanan
Terlebih untuk yang sering mengalami mabuk dalam perjalanan, sebaiknya mengkonsumsi minuman jahe. Rempah-rempah yang satu ini diyakini dapat mengurangi rasa mual juga menyembuhkan jet lag.
13.  Bersifat anti alergi
Manfaat jahe bersama ekstrak biji anggur dapat bermanfaat untuk membantu mengurangi demam dan masalah serupa yang seringkali dapat terjadi selama musim alergi.
14.  Mengobati morning sickness
Rasa mual, perut kembung dan rasa ingin muntah pada pagi hari, termasuk pada wanita yang sedang hamil. Morning sickness dapat disembuhkan dengan mengkonsumsi ramuan minuman jahe.
15.  Menangkal radikal bebas
Jahe mengandung kandungan antioksidan yang mampu untuk dapat mengatasi efek merusak karena disebabkan oleh radikal bebas dalam tubuh.
16.  Peradangan
Jahe seperti pada nomor 1 bahwa jahe memiliki kandungan senyawa yang dinamakan gingerol. Senyawa gingerol ini bertanggung jawab untuk sebagai aroma menyengat dan khasiat anti-inflamasi. Pada saat mencari obat anti peradangan pastikan obatnya memiliki kandungan gingerol.
17.  Arthritis
Ekstrak jahe yang juga bermanfaat pada penderita arthritis dan osteoarthritis. Kandungan pada jahe sudah diyakini mengandung komponen yang dapat menghambat COX, dimana COX merupakan salah satu bahan kimia tubuh yang bertanggung jawab tentang timbulnya peradangan. Obat resep penghambat COX ini biasanya memiliki efek samping yang dapat merugikan tubuh. Manfaat jahe sebagai salah satu obat herbal alami dapat memiliki khasiat yang serupa dan tanpa efek samping.
18.  Membersihkan kotoran dalam tubuh
Apabila sering mengkonsumsi jahe secara rutin dengan cara diseduh, hal tersebut dapat membuat tubuh menjadi berkeringat. Melalui keringat itulah dikeluarkan berbagai jenis kotoran jahat yang terdapat dalam tubuh.
19.  Memerangi sel kanker
Kandungan nutrisi yang terdapat pada jahe dapat bermanfaat unutk membantu meredam perkembangan sel-sel kanker dalam tubuh. Pada sejumlah studi mengungkapkan bahwa khasiat ekstrak jahe dapat untuk memerangi beragam jenis kanker seperti kanker ovarium dan kanker usus.
20.  Menurunkan kolesterol
Pada sejumlah studi bahwa telah menunjukkan dengan mengkonsumsi jahe secara dapat secara efektif untuk mengurangi penyerapan kolesterol dalam darah dan juga hati. Kandungan gingerol terdapat dalam jahe juga memiliki efek yang bersifat antikoagulan yang mampu untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah. Kandungan pada jahe dapat merangsang pelepasan hormon adrenalin yang pada akhirnya dapat memperlancar aliran peredaran darah.
21.  Meredakan rasa sakit
Pereda rasa sakit alami dan juga dapat digunakan untuk meredakan sakit kepala. Cara menggunakan dengan minum wedang jahe 3 kali sehari.
22.  Pereda nyeri dan sendi kaku
Dalam sebuah uji klinis bahwa dapat disimpulkan jahe ternyata dapat menghilangkan rasa sakit seperti yang saya sebutkan diatas, meningkatkan pergerakan pada sendi, serta mengurangi pembengkakan yang terkait dengan rheumatoid arthritis. Manfaat jahe yang lainnya juga dapat untuk membantu meredakan nyeri pada punggung dan sakit kepala seperti migrain.

Selasa, 05 April 2016

makalah pengertian pendidikan

PENGERTIAN PENDIDIKAN

1. Pengertian Pendidikan berdasarkan Lingkupnya
a. Pendidikan dalam Arti Luas
Dalam arti luas, pendidikan adalah hidup. Artinya, pendidikan adalah segala pengalaman (belajar) di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu.
Disadari maupun tidak disadari, pendidikan selalu diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam arti luas, tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar dan tidak ditentukan dari luar individu. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan, jumlah tujuan pendidikan tidak terbatas. Tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup (Redja Mudyahardjo, 2001).
b. Pendidikan dalam Arti Sempit
Dalam arti sempit, pendidikan hanya berlangsung bagi mereka yang menjadi siswa pada suatu madrasah atau mahasiswa pada suatu perguruan tinggi(lembaga pendidikan formal). Pendidikan dilakukan dalam bentuk pengajaran (instruction) yang terprogram dan bersifat formal. Pendidikan berlangsung disekolah atau didalam lingkungan tertentu yang diciptakan secara sengaja dalam konteks kurikulum sekolah yang bersangkutan.
Dalam pengertian sempit, tujuan pendidikan ditentukan oleh pihak luar individu; tujuan pendidikan terbatas pada pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu; tujuan pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup di masyarakat (Redja Mudyahardjo, 2001).
PERBANDINGAN PENGERTIAN PENDIDIKAN
BERDASARKAN LINGKUPNYA

HAL
PENGERTIAN LUAS
PENGERTIAN SEMPIT
Definisi
Pendidikan adalah hidup
Pendidikan adalah schooling; pengajaran formal yang terkontrol
Tujuan
Melekat dalam tujuan hidup individu, tidak ditentukan dariluar individu
Terbatas pada pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu; mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup dimasyarakat; ditentukan oleh pihak luar individu
Peserta Didik
Siapapun
siswa/mahasiswa
Waktu
Kapanpun; sepanjang hayat
Waktu tertentu, terjadwal, memiliki batas akhir /terminal
Tempat
Dimana pun
Lembaga pendidikan formal dalam berbagaibentuknya
Pendidik
Tidak terbatas pada pendidik profesional (guru/dosen).
Pendidik profesional (guru, dosen, dsb).
Bentuk Kegiatan Pendidikan

Berbagaikegiatan, peristiwa dan tindakan, baik yang pada awalnya dimaksudkan untuk pendidikan maupun tidak.
Pengajaran di bawah kondisi-kondisi yang terkontrol.

2. Pengertian Pendidikan berdasarkan Pendekatan Ilmiah
    dan Pendekatan Sistem
a.       Pengertian Pendidikan berdasarkan Pendekatan Ilmiah
Berdasarkan pendekatanan antropologi, pendidikan dipandang identik dengan enkulturasi atau pembudayaan, Berdasarkan pendekatan ekonomi( human investment) Berdasarkan pendekatan sosiologiBerdasarkan pendekatan biologi, “Pendidikan dalam artinya yang hakiki, ialah pemberian bimbingan dan bantuan rohanikepada orang yang belum dewasa”. dan“mendidik berarti melakukan tindakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan”.menurut  tinjauan pedagogik. M.J. Langeveld dalam bukunya “Beknopte Theoritische Paedagogiek’’ (Simajuntak, 1980)
Jadi pendidikan adalah suatu upaya yang dilakukan secara sengaja oleh orang dewasa untuk membantu anak atau orang yang belum dewasa agar mencapaikedewasaan.
Unsur-unsur yang terlibat dalam pergaulan pendidikan itu adalah:
(1) Tujuan pendidikan.
(2) Pendidik.
(3) Anak Didik/Peserta Didik.
(4) IsiPendidikan (kurikulum).
(5) Alat Pendidikan.(6) Lingkungan Pendidikan.

b. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem (bisa di katakan mentransformasi input menjadi out put).
ada tiga jenis sumber input dari masyarakat bagisistem pendidikan, Menurut P.H. Coombs (Odang Muchtar, 1976),yaitu;
1) ilmu pengetahuan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang berlaku di dalam masyarakat;
2) penduduk serta tenaga kerja yang berkualitas;
3) ekonomiatau penghasilan masyarakat.
Komponen sistem pendidikan tersebut meliputi:
1) Tujuan dan prioritas.
Komponen ini berfungsiuntuk mengarahkan semua kegiatan sistem.
2) Siswa atau peserta didik.
Komponen ini berfungsi untuk belajar atau menjalani proses pendidikan.
3) Pengelolaan atau management.
Komponen iniberfungsimengkoordinasikan, mengarahkan dan menilaisistem pendidikan.
4) Struktur dan jadwal.
Komponen ini berfungsi mengatur waktu dan pengelompokan siswa menurut tujuan-tujuan tertentu.
5) Isiatau kurikulum.
Komponen ini berfungsi sebagai bahan atau apa yang harus dipelajari siswa.
6) Guru atau pendidik.
Komponen iniberfungsimembantu menyediakan bahan dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (KBM) untuk siswa.
7) Alat bantu belajar.
Komponen ini berfungsi agar KBM menjadi lebih menarik, bervariasi dan mudah.
8) Fasilitas.
Komponen ini berfungsi menyediakan tempat untuk terjadinya kegiatan belajar mengajar (KBM).
9) Teknologi.
Komponen iniberfungsiuntuk memperlancar KBM.
10) Kontrol kualitas.
Komponen iniberfungsimembina sistem peraturan dan kriteria pendidikan.
11) Penelitian.
Komponen iniberfungsiuntuk mengembangkan pengetahuan, penampilan sistem, dan hasil kerja sistem.
12) Biaya.
Komponen ini berfungsi sebagai petunjuk tingkat efisiensi sistem pendidikan.

Didalam sistem pendidikan berlangsung suatu proses pendidikan. Proses inipada dasarnya merupakan interaksifungsional antar berbagaikomponen pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan atau mentransformasi raw input (siswa) menjadi out put pendidikan, adapun out put pendidikan adalah manusia terdidik.
3. Pendidikan sebagai Humanisasi
Pendidikan sebagai humanisasi yang merupakan implikasi gagasan filosofis tentang hakikat manusia terhadap pendidikan.yang  dinyatakan Karl Japers bahwa: “to be a man is to become a man” / ada sebagai manusia adalah menjadi manusia (Fuad Hasan, 1973). Adapun manusia akan dapat menjadi manusia hanya melalui pendidikan. Implikasinya maka pendidikan tiada lain adalah humanisasi (upaya memanusiakan manusia). Sasaran pendidikan hakikatnya adalah manusia sebagai kesatuan yang terintegrasi.
Tujuan pendidikan itu tiada lain adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt., berakhlak mulia, sehat, cerdas, berperasaan, berkemauan, dan mampu berkarya; mampu memenuhiberbagaikebutuhannya secara wajar, mampu mengendalikan hawa nafsunya; berkepribadian, bermasyarakat dan berbudaya. Inilah manusia ideal atau manusia yang dicita-citakan yang ingin dicapaimelalui pendidikan. Implikasinya, pendidikan harus berfungsi untuk mewujudkan (mengembangkan) berbagai potensi yang ada pada manusia dalam konteks dimensi keberagamaan, moralitas, individualitas/personalitas, sosialitas, dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi. Dengan kata lain, pendidikan berfungsiuntuk memanusiakan manusia.
Pendidikan diarahkan menuju terwujudnya manusia ideal, sebab itu pendidikan bersifat normatif. Implikasinya, sesuatu tindakan dapat digolongkan ke dalam upaya pendidikan apabila tindakan itu diarahkan menuju terwujudnya manusia ideal. Pendidikan hendaknya tidak direduksi menjadi sebatas pengajaran saja. Pengajaran memang tergolong ke dalam salah satu bentuk upaya bantuan yang diberikan kepada peserta didik, tetapi upaya initerbatas hanya dalam rangka untuk menguasaidan mengembangkan pengetahuan semata. Pendidikan jangan direduksi menjadi sebatas latihan saja, sebab latihan hanya diarahkan dalam rangka menguasai keterampilan saja. Pendidikan jangan pula direduksi menjadi hanya sebatas sosialisasi atau enkulturasi saja, personalisasi saja, human investment atau untuk menghasilkan tenaga kerja saja, dst. Sebagai humanisasi pendidikan seyogyanya meliputiberbagaibentuk kegiatan dalam upaya mengembangkan berbagai potensi manusia dalam konteks dimensi keberagamaan, moralitas, individualitas/personalitas, sosialitas, dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi.
Humanisasi bukanlah pembentukan peserta didik atas dasar kehendak sepihak daripendidik. Peserta didik bukanlah objek yang harus dibentuk oleh pendidik. Alasannya, bahwa peserta didik hakikatnya adalah subjek yang otonom. Kita harus menyadari prinsip individualitas/personalitas ini. Sesuai dengan prinsip ini bahwa yang berupaya mewujudkan potensi kemanusiaan itu adalah peserta didik sendiri. Bahwa yang berupaya meng-ada-kan atau mengaktualisasikan diri itu hakikatnya adalah peserta didik sendiri.
Sifat pendidikan yang normatif dan dimensimoralitas mengiplikasikan bahwa pendidikan hanyalah bagi manusia, tidak ada pendidikan bagi khewan. Manusia dididik untuk menjadi manusia yang baik, berperilaku baik atau berakhlak mulia . Di pihak lain, manusia memiliki potensi untuk mampu berbuat baik, ia dibekali kata hatiuntuk dapat membedakan perbuatan baik dan jahat. Sebab itu, manusia akan mungkin dididik untuk tujuan tadi. Sementara khewan tidak memiliki kemampuan untuk membedakan baik atau tidak baiknya suatu perbuatan, tingkah laku khewan tidak dapat dinilai baik ataupun jahat. Sebab itu, istilah dan makna pendidikan tidak berlaku untuk khewan.

4. Pengertian Tarbiyah dan Ta’lim (Pendidikan) menurut Islam
Istilah pendidikan dalam konteks Islam mengacu kepada istilah tarbiyah dan ta’lim. Dalam hal tertentu kedua istilah tersebut memilikikesamaan makna., tetapisecara esensial setiap istilah tersebut memilikiperbedaan makna (Abdul Fattah Jalal, 1988).
a. Tarbiyah
Sebagaimana dikemukakan Abdurrahman an-Nahlawi(1989), menurut kamus bahasa Arab, lafal at-Tarbiyah berasal daritiga kata: (1) raba yarbu, artinya: bertambah dan tumbuh; (2) rabiya yarba dengan wazn (bentuk) khafiya yakhfa, artinya: menjadi besar; (3) rabba yarubu dengan wazn (bentuk) madda yamuddu, yang berarti: memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga dan memelihara.
Selanjutnya An-Nahlawi mengemukakan bahwa beberapa pengkaji telah menyusun definisi pendidikan dari ketiga asal kata di atas. Imam al-Baidlawi (wafat 685 H) di dalam tafsirnya “Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil” menyatakan: “Makna asal ar-Rabb adalah at-Tarbiyah, yaitu: menyampaikan sesuatu sedikit demisedikit hingga sempurna. Kemudian kata itu dijadikan sifat Allah swt. sebagai mubalaghah (penekanan). Disamping itu, ar-Raghib al-Asfahani(wafat 502 H) menyatakan bahwa: “makna asal ar-Rabb adalah at-Tarbiyah, yaitu memelihara sesuatu sedikit demisedikit hingga sempurna”.
Dari ketiga asal kata diatas Abdurrahman al-Banimenyimpulkan, bahwa pendidikan (at-Tarbiyah) terdiri atas empat unsur, yaitu:
(1) Menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang baligh.
(2) Mengembangkan seluruh potensi dan kesiapan yang bermacam-macam.
(3) Mengarahkan seluruh fitrah dan potensi ini menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan yang   layak baginya.
(4) Proses itu dilaksanakan secara bertahap, sebagaimana diisyaratkan oleh al-Baidlawi dan ar-Raghib dengan “sedikit demisedikit”.
Berdasar semua uraian diatas, Abdurrahman an-Nahlawi(1989:32-33) menarik empat kesimpulan asasi dalam memahami makna pendidikan, yaitu: Pertama, pendidikan adalah proses yang mempunyai tujuan dan objek. Kedua, secara mutlak, pendidik yang sebenarnya hanyalah Allah, Pencipta fitrah dan Pemberi berbagai potensi. Dia-lah Yang memberlakukan hukum dan tahapan perkembangan serta interaksinya, dan hukum-hukum untuk mewujudkan kesempurnaan kebaikan serta kebahagiaan. Ketiga, Pendidikan menunut adanya langkah-langkah yang secara bertahap harus dilaluioleh berbagai kegiatan pendidikan dan pengajaran, sesuai dengan urutan yang telah disusun secara sistematis. Anak melakukan itu fase demifase. Keempat, kerja pendidik harus mengikutiaturan penciptaan dan pengadaan yang dilakukan Allah, sebagaimana harus mengikutisyara’ dan Din Allah.
b. Ta’lim
Al-Rasyid dan Syamsul Nizar (2005) mengemukakan bahwa istilah al-Ta’lim telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam. Menurut para ahli, kata inilebih bersifat universal dibanding dengan al-Tarbiyah. Rasyid Ridla, misalnya mengartikan al-Ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Argumentasinya didasarkan pada ayat al-Quran, yaitu Q.S. Al-Baqarah/2:151. Sehubungan dengan ayat pada surat Al Baqarah di atas, menurut Abdul Fattah Jalal (1988), bahwa Islam memandang proses ta’lim lebih universal daripada tarbiyah. Sebab, ketika mengajarkan tilawatul Quran kepada kaum muslimin, Rasulullah saw. tidak terbatas pada membuat mereka sekedar dapat membaca saja, melainkan “membaca dengan perenungan” yang berisikan pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah. Dari membaca semacam ini, Rasul membawa mereka kepada tazkiyah (pensucian) yaitu pensucian dan pembersihan dirimanusia darisegala kotoran, dan menjadikan diri itu berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari segala apa yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya.
Dengan mengacu kepada Q.S. al-Isra/17:24 dan Q.S. as-Syura/26:18 selanjutnya Abdul Fattah Jalal menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Tarbiyah ialah proses persiapan dan pengasuhan pada fase pertama pertumbuhan manusia, atau menurut istilah yang kita gunakan dewasa iniadalah pada fase bayidan kanak-kanak. Penggunaan kata tarbiyah pada ayat pertama menunjukkan, bahwa pendidikan pada fase ini menjadi tanggung jawab keluarga. Orang tua – khususnya Ibu dan ayah - bertanggung jawab mengasuh dan mengasihianak yang masih kecil dan berada dalam situasiketergantungan. Adapun ta’lim lebih luas daripendidikan pada fase kanak-kanak. Ta’lim merupakan suatu proses yang harus terus menerus diusahakan manusia semenjak dilahirkan.
Kecenderungan Abdul Fattah Jalal sebagaimana dikemukakan diatas, didasarkan pada argumentasi bahwa manusia pertama yang mendapatkan pengajaran langsung dari Allah adalah nabi Adam a.s.
Dari seluruh keterangan di atas, terungkap jelas bahwa menurut konsep islam, istilah ta’lim lebih luas jangkauannya dan lebih umum sifatnya daripada tarbiyah yang khusus berlaku bagianak kecil. Namundemikian, dapat dipahamidalam konteks inibahwa pendidikan hendaknya diarahkan agar seseorang (peserta didik) dapat berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.
KESIMPULAN

Dalam arti luas, pendidikan adalah hidup, sedangkan dalam arti sempit identik dengan schooling. Kedua pengertian pendidikan tersebut memiliki karakteristik masing-masing.
Berdasarkan pendekatan ilmiah, ada beberapa konsep/istilah yang dipandang mengandung makna identik dengan pendidikan, yaitu: sosialisasi, enkulturasi, civilisasi, adaptasi, individualisasi/personalisasi, human investment dsb. Sedangkan menurut sudut pandang pedagogik pendidikan diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan orang dewasa dalam membantu anak untuk mecapai kedewasaan. Adapun berdasarkan pendekatan sistem, pendidikan didefinisikan sebagai keseluruhan terpadu dari berbagai komponen yang saling berinteraksi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Berdasarkan pendekatan religius (Islam), ada dua istilah yang memiliki makna pendidikan, yaitu tarbiyah dan ta’lim. Kedua istilah ini memang memiliki kesamaan arti, tetapi juga memiliki perbedaan. Tarbiyah berkenaan dengan pendidikan anak-anak, sedangkan ta’lim memilki pengertian yang lebih luas jangkauannya.

Adanya keragaman pengertian pendidikan merupakan bukti adanya berbagaipihak yang menaruh perhatian terhadap pendidikan, ini tiada lain mengingat begitu pentingnya pendidikan dalam rangka eksisitensi manusia. Tetapiberbagaipengertian pendidikan tersebut hendaknya tidak kita pahami secara parsial, berbagai pengertian tersebut pada dasarnya saling melengkapi mengingat pendidikan itu hakikatnya adalah humanisasi.

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MI MIFTAHUL HUDA TONDOMULYO JAKENAN PATI

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MI MIFTAHUL HUDA TONDOMULYO JAKENAN PATI

A. Latar Belakang
Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang mempelajari tentang rukun iman yang dikaitkan dengan pengenalan dan penghayatan terhadap al-asma' al-husna, serta penciptaan suasana keteladanan dan pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji dan adab Islami melalui pemberian contoh-contoh perilaku dan cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara substansial mata pelajaran Akidah-Akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan al-akhlakul karimah dan adab Islami dalam kehidupan sehari-hari sebagai manifestasi dari keimanannya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta Qada dan Qadar.[1]
Pembelajaran akidah akhlak di MI adalah bagian integral dari pendidikan agama. Walaupun bukan satu-satunya factor yang menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian peserta didik. Tetapi secara subtansial mata pelajaran akidah akhlak memiliki konstribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengamalkan nilai-nilai keyakinan (tauhid) dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari hari.
Pelaksanaan pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati ternyata tidaklah mudah. Adanya anggapan bahwa akidah akhlak adalah pelajaran yang hanya dihafal membuat peserta didik menjadi statis dan kurang berapresiasi. Hal ini jika dibiarkan berlarut-larut tentunya akan sangat membahayakan akhlak dan akidah generasi bangsa. Pengaruh yang saat ini bisa kita lihat dari permasalahan itu adalah dengan menurunnya moralitas peserta didik dalam berperilaku yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati ini, yang memang anggapan para siswa umumnya tidak ada orientasi ke depan yang jelas berbeda dengan mata pelajaran yang lain, seperti halnya belajar bahasa Inggris biar lebih keren, atau pada pelajaran MIPA yang ke depannya akan menjadi teknisi yang banyak dibutuhkan oleh banyak instansi.
Pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati masih jauh dari ideal, karena di lihat dari prestasi belajar nilai ketuntasan belajar aqidah akhlak hanya berkisar 50% dari seluruh jumlah siswa MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati Meskipun pelaksanaan pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati , metode yang digunakan berbeda antara guru yang satu dengan guru yang lain. Anehnya siswa masih banyak yang tidak minat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran akidah akhlak. Ini adalah sebuah bentuk ketidakseriusan mereka terhadap kegiatan pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati. Di luar problem yang dialami murid, proses belajar mengajar akidah akhlak, penggunaan metode memang belum ada yang efektif, karena siswa tidak merasa nyaman dalam pelajaran akidah akhlak, yang akibatnya siswa memilih untuk tidak mengikuti proses belajar mengajar akidah akhlak dari pada yang ikut.
Penurunan prestasi belajar dan tingkah laku yang santun yang sesuai dengan ajaran agama Islam menunjukkan adanya hal yang tidak menarik dari pelajaran akidah akhlak yang diajarkan di pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati. Penelitian ini menarik dilakukan karena semangat berakhlakul karimah yang ditanamkan sejak kecil akan dapat membentuk perilaku yang sesuai dengan ajaran agama Islam apabila peserta didik tersebut dewasa. Apabila hal ini tercapai maka kemajuan Islam nantinya akan terwujud. Oleh karena itu, penyampaian pendidikan agama Islam dan segala komponen yang ada perlu dikemas secara menarik diantaranya yaitu strategi mengajar dan segala hal yang berkaitan dengan proses belajar mengajar haruslah menarik minat peserta didik. Dan perlu juga untuk dicarikan solusi atas segala permasalahan yang muncul di lapangan saat proses belajar mengajar berlangsung. Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang Problematika Pembelajaran Aqidah Akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati.

B. Rumusan Masalah
Sebagaimana diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana proses pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati?
2.      Problematika apa saja yang di alami dalam pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati?
3.      Solusi apa sajakah yang dilakukan untuk mengatasi masalah dalam pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati?

C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas maka dalam penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui proses pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati.
2.    Untuk mengetahui Problematika yang di alami dalam pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati.
3.    Untuk mengetahui Solusi yang dilakukan untuk mengatasi masalah dalam pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Jakenan Pati.

D. Hasil Penelitian
1. Proses pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati
Ada beberapa hal yang terkait dengan proses pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati yaitu:
1. Tujuan pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati.
Sistem pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Proses pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati mempunyai komponen pembelajaran antara lain tujuan, yaitu yang memberikan ke arah mana pembelajaran aqidah akhlak berjalan. Materi yaitu materi apa yang harus disampaikan kepada peserta didik. Metode yaitu bagaimana cara menyampaikan materi yang telah diberikan kepada peserta didik. Sedangkan media yang dimaksud yaitu media apa saja yang digunakan pada materi yang akan disampaikan.
Adapun tujuan umum yang ingin dicapai dalam pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati yaitu untuk terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi pekerti yang luhur (berakhlak mulia), memiliki pengetahuan tentang ajaran pokok ajaran agama Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang Islam sehingga memadai baik untuk kehidupan pribadi atau bermasyarakat maupun untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
2. Materi Pembelajaran Akidah Akhlak
Muatan materi pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati diberlakukan materi-materi dalam akidah akhlak masih tetap didalamnya termuat inti pokok dari ajaran Islam yang memuat akidah (masalah keimanan) dan akhlak baik akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap sesama manusia, atau akhlak terhadap lingkungan.
3. Interaksi guru dan siswa
Interaksi yang dilakukan dalam pembelajaran aqidah akhlak dengan menggunakan dilakukan dua arah yaitu antara guru dan peserta didik saling menghargai dan menghormati dalam proses belajar mengajar, guru memberikan pertanyaan kepada siswa agar siswa aktif menjawab.
4. Strategi Pembelajaran Akidah Akhlak
Strategi yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran Akidah Akhlak dilakukan dengan mengelompokkan siswa yaitu diantara siswa melakukan pembelajaran tutor sebaya, siswa mempunyai kemampuan lebih mejdi tutor bagi siswa yang kurang tahu.
5. Pendekatan dan Prinsip
Dalam kegiatan pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati menggunakan beberapa pendekatan, diantaranya:
a. Pendekatan Rasional, yaitu suatu pendekatan dalam proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada aspek penalaran. Pendekatan ini dapat berbentuk proses berfikir induktif yang dimulai dengan memperkenalkan fakta-fakta, konsep, informasi atau contohcontoh dan kemudian ditarik suatu generalisasi (kesimpulan) yang bersifat menyeluruh (umum) atau proses berfikir deduktif yang dimulai dari kesimpulan umum dan kemudian dijelaskan secara rinci melalui contoh-contoh dan bagian-bagiannya.
b. Pendekatan emosional, yakni upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam menghayati yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa.
c. Pendekatan pengalaman, yakni guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktekkan dan merasakan hasil-hasil pengalaman ibadah.
d. Pendekatan pembiasaan, yakni guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berperilaku sesuai dengan ajaran Islam.
e. Pendekatan fungsional, yakni guru dalam menyajikan materi pokok dari segi manfaatnya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
f. Pendekatan keteladanan, yaitu guru memberi contoh yang baik dalam bergaul dan berperilaku.
Sementara itu dalam kegiatan pembelajaran akidah akhlak guru menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Berpusat pada peserta didik. Bahwa setiap peserta didik itu memiliki perbedaan minat (interest), kemampuan (ability), kesenangan (prefence), pengalaman (experience) dan cara belajar (learning style). Kegiatan pembelajaran perlu menempatkan mereka sebagai subyek belajar dan mendorong mereka untuk mengembangkan segenap bakat dan potensinya secara optimal.
b. Belajar dengan melakukan. Peserta didik melakukan aktifitas karena itu guru memberi kesempatan kepada peserta didik diberi kegiatan nyata yang melibatkan dirinya. Untuk mencari dan menemukan sendiri, sehingga akan menjadi kegembiraan sendiri dan peserta didik memperoleh harga diri sesuai dengan hasil karyanya.
c. Perpaduan kompetensi, kerjasama dan solidaritas. Bahwa setiap peserta didik diharapkan berkompetensi, bekerja sama dan mengembangkan solidaritasnya untuk mengembangkan kompetensi yang sehat pada proses pembelajaran berlangsung.
6. Metode Pembelajaran Akidah Akhlak
Pelaksanaan pembelajaran akidah akhlak antara lain dengan menggunakan metode-metode yang sudah ada yang perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan materi yang diajarkan. Diantaranya metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran antara lain:
1) Metode ceramah
Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru metode ini biasanya digunakan guru pada awal pelajaran. Metode ini bisa dikatakan sebagai prolog dari awal proses pembelajaran.
2) Metode Tanya jawab
Ini dilakukan agar peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran tidak bersifat satu arah, melainkan ada feed back dengan peserta didik.
3) Metode Demonstrasi
Metode ini merupakan metode interaksi edukatif yang sangat efektif dalam membantu murid untuk mengetahui proses pelaksanaan sesuatu, apa unsur yang terkandung di dalamnya, dan cara mana yang paling tepat dan sesuai, melalui pengamatan induktif.
4) Metode diskusi
Metode diskusi merupakan metode yang diterapkan oleh semua guru, sebagai upaya untuk mengembangkan pola pikir siswa
7. Media Pembelajaran Akidah Akhlak
Selain itu media pembelajaran yang digunakan sesuai materi yang diajarkan. Kreatifitas guru dalam menggunakan media sangat berpengaruh dalam keberhasilan pembelajaran. memfasilitasi semua sumber belajar sesuai kemampuan, baik sumber belajar yang skala besar misal gedung, laboratorium, perpustakaan, sarana ibadah, buku-buku, alat peraga dan sebagainya. Selain itu guru akidah akhlak juga dituntut oleh sekolah untuk menciptakan media sendiri yang dapat memperlancar kegiatan pembelajaran akidah akhlak.
Dalam pelaksanaan pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo menggunakan tiga bentuk yaitu:
a. Bentuk kegiatan intrakurikuler
Kegiatan intrakurikuler ini yaitu proses pembelajaran yang diadakan di ruang kelas, artinya guru menyampaikan secara langsung materi pembelajaran di ruang kelas pada jam pelajaran. Adapun alokasi waktu pada setiap tatap muka adalah satu jam pelajaran.
b. Bentuk kegiatan kookurikuler
Adapun kegiatan pembelajaran dalam bentuk kookurikuler ini diadakan secara tidak langsung bertatap muka di dalam ruang kelas seperti pada kegiatan intra kurikuler.
Dalam kegiatan kokurikuler ini guru hanya memberikan tugas kepada peserta didik untuk dikerjakan di rumah baik dalam bentuk tugas kelompok maupun tugas secara individu. Guru hanya memberikan petunjuk secara umum tentang bagaimana cara yang harus ditempuh untuk mengerjakan tugas tersebut. Tugas-tugas tersebut dapat berbentuk mengikuti kegiatan keagamaan dan membuat laporan tentang kegiatan keagamaan tersebut seperti kegiatan pernikahan dan lain-lain. Program kokurikuler ini bertujuan untuk mendidik para peserta didik untuk dapat belajar mandiri, dapat mengatur waktu dan dapat bertanggung jawab.
c. Bentuk kegiatan ekstrakulikuler
Pada kegiatan ini, MI Miftahul Huda Tondomulyo melaksanakan program pendidikan agama guru tidak terlibat secara langsung tetapi hanya sebagai pengarah dan pembimbing pasif dan seharusnya peserta didiklah yang harus aktif melaksanakan bentuk kegiatan yang ada. Pada dasarnya pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler ini merupakan bentuk manifestasi dari kegiatan intra kurikuler yang terbatas pada dataran teori saja. Dalam kegiatan ekstra ini teori yang diperoleh dari kegiatan intra kurikuler diwujudkan dan dipraktekkan dalam berbagai macam kegiatan social keagamaan secara nyata dalam masyarakat, seperti pelaksanaan penyelenggaraan peringatan hari besar Islam, pengumpulan zakat fitrah bakti social, dan lain-lain. Kegiatan ekstra kurikuler ini bertujuan agar peserta didik dapat bertambah wawasan social keagamaannya dan mendidik para peserta didik agar terlatih dalam bersosialisasi, berinteraksi, dengan lingkungan sekitar dimanapun nantinya dia berdominasi. Dengan demikian ketika peserta didik tersebut benar-benar terjun kemasyarakat akan mampu dengan cepat beradaptasi dan menjadi orang yang sosialis, agamis, dan tidak menjadi individu yang egois.
2. Problematika Pembelajaran Akidah Akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati
Problematika pembelajaran akidah akhlak di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati diantaranya yaitu:
Ø  Problematika pada guru
Setiap guru seharusnya dapat mengajar di depan kelas. Bahkan mengajar itu dapat dilakukan pula pada sekelompok siswa di luar kelas atau di mana saja.[2] Namun kenyataannya tidak semua guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Padahal seorang guru memiliki tanggung jawab bukan hanya mengajar namun masih banyak yang harus dilakukannya. Dalam buku belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya[3] mengemukakan tanggung jawab guru cukup banyak yaitu meliputi hal-hal berikut ini:
a. Memberi bantuan kepada siswa dengan menceritakan sesuatu yang baik, yang dapat menjamin kehidupannya.
b. Memberikan jawaban langsung pada pertanyaan yang diminta oleh siswa.
c. Memberikan kesempatan untuk berpendapat.
d. Memberikan evaluasi.
e. Memberikan kesempatan menghubungkan dengan pengalamannya sendiri.
Hal di atas merupakan sebagian kecil dari tanggung jawab guru. Disamping tanggung jawab yang lain yang cukup penting. Tanggungjawab yang sangat penting itu adalah menyampaikan materi dengan baik kepada siswa serta bagaimana mendidik siswa agar memiliki ahklak yang mulia. Guru diharapkan tidak hanya mampu mengajar saja namun kemampuan yang lain seperti yang telah disebutkan di atas juga harus dikuasai. Karena guru di tuntut agar dapat menjadi seorang organisator yaitu orang yang mengorganisasikan sesuatu. Orang yang dapat mengorganisasikan segala sesuatu dengan baik maka dia akan dapat mengendalikanya.
Pekerjaan mengajar bukanlah hal yang ringan. Seorang guru harus berhadapan dengan sekelompok orang, mereka merupakan sekelompok makhluk hidup yang memerlukan bimbingan dan pembinaan menuju pada kedewasaan.
Ø Problematika pada sistem pengelolaan kelas dan metode pembelajaran.
Problematika yang dihadapi berikutnya adalah yang berkaitan dengan sistem pengelolaan dan metode pengajaran. System pengelolaan yang diterapkan oleh sebuah lembaga pendidikan terkadang mendatangkan problematika tersendiri. Sistem pengelolaan terhadap sebuah lembaga atau yang penulis katakan dengan management merupakan hal yang tidak kalah pentingnya. Bagaimana pemimpin lembaga tersebut mengelola lembaganya merupakan salah satu hal yang juga akan ikut mempengaruhi terhadap perjalanan pendidikan. Pemimpin lembaga seharusnya dapat memanajemen dengan baik semua komponen yang ada agar dapat menjadi satu kesatuan yang utuh. Mengusahakan keserasian antara kegiatan tiap orang dan tiap pihak demi mencapai sasaran dan tujuan bersama atau yang disebut dengan koordinasi merupakan inti manajemen.[4]
Dengan adanya manajemen yang baik dari seorang pemimpin maka diharapkan perjalanan pendidikan pada lembaga tersebut dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang diinginkan. Dengan seperti itu maka problematika yang berkaitan dengan manajemen akan dapat di minimalisir. Selain problematika yang berkaitan dengan pengelolaan juga ada problematika yang berkaitan dengan metode pengajaran. Terkadang metode yang diterapkan oleh guru tidak cocok bagi siswa dan siswa tidak dapat menangkap pelajaran dengan baik. Masih amat banyak guru yang belum memahami metode yang bagaimana yang harus ia terapkan dalam menyampaikan suatu materi. Sebelum menerapkan metode yang akan diterapkan seharusnya guru memahami tugas pokoknya. Dengan mengetahui tugas pokoknya maka guru akan memiliki tanggung jawab yang besar dan berusaha melaksanakan tugasnya dengan baik. Dalam buku Wawasan Tugas Tenaga Guru dan Pembina Pendidikan Agama Islam Drs. Hadirja Paraba menyampaikan tugas pokok guru.[5] antara lain:
a. Mengajar
b. Mendidik
c. Melatih
d. Menilai atau mengevaluasi
Dengan mengetahui tugas pokok seperti di atas tentunya guru akan berpikir apa yang harus dilakukan sebagai pelaksanaan tugas pokoknya. Dengan seperti itu guru telah berusaha mencari cara atau jalan yang akan ditempuhnya. Seperti dalam hal mengajar tentunya guru akan berpikir bagaimana cara mengajarnya, apa yang akan diajarkanya, alat apa yang akan digunakan, dan lain sebagainya. Dalam hal mengajar tentunya diinginkan hal yang efektif. Dan mengajar yang efektif adalah mengajar yang dapat membawa belajar siswa yang efektif pula.[6] Dalam hal mengajar yang efektif ini Drs. Slameto dalam bukunya Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya juga menyampaikan syarat-syarat bagi mengajar yang efektif. Beliau menyampaikan untuk melaksanakan mengajar yang efektif diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:
a. Belajar secara aktif baik mental maupun fisik.
b. Guru harus mempergunakan banyak metode pada waktu mengajar.
c. Motivasi, guru hendaknya memberikan motivasi yang tepat bagi anak.
d. Kurikulum yang baik dan seimbang.
e. Guru perlu mempertimbangkan perbedaan individual.
f. Selalu membuat perencanaan sebelum mengajar.
g. Sugesti yang kuat akan merangsang siswa untuk rajin belajar.
h. Guru memiliki keberanian menghadapi siswa-siswanya.
i. Guru dapat menciptakan suasana yang demokratis di sekolah.
j. Dalam penyampaian materi guru perlu memberikan permasalahan yang merangsang anak untuk berfikir.
k. Pelajaran yang diberikan pada siswa perlu diintegrasikan.
l. Pelajaran di sekolah dihubungkan dengan kehidupan nyata di masyarakat.
m. Guru memberikan kebebasan pada siswa untuk dapat menyelidiki sendiri, mengamati sendiri, belajar sendiri, memecahkan masalah sendiri.
n. Pengajaran remedial untuk mengulangi apa yang pernah disampaikan.
Dengan berbagai macam hal diatas, apabila dapat diterapkan dengan baik maka proses pengajaran akan berjalan dengan baik dan efektif. Guru juga dapat menentukan metode pengajaran yang sesuai dengan mata pelajaran yang disampaikanya.
Ø Problematika pada anak didik
Problematika yang selanjutnya adalah problematika yang dihadapi oleh anak didik atau siswa. Siswa juga mengalami banyak problem dalam belajarnya. Ada hal-hal yang dapat mempengaruhi belajar siswa, yang secara umum ada dua faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor intern dan ekstern[7] hal itu juga sama persis dengan apa yang disampaikan oleh Drs.Slameto.[8] Problematika yang ada pada siswa juga berkaitan dengan faktor yang ada baik intern maupun ekstern.
3. Solusi yang dilakukan untuk mengatasi masalah dalam pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati
Ø Solusi terhadap Problematika pada Guru khususnya yang berhubungan dengan Penguasaan Materi
Usaha yang dilakukan untuk mengatasi problem yang timbul dalam penyampaian materi Akidah akhlak di MI Miftahul Huda antara lain:
 1) Dalam penyampaian materi pembelajaran akidah akhlak, guru lebih mengutamakan/memilih materi pelajaran yang penting atau dengan menyampaikan inti materi, sehingga materi pelajaran yang harus disampaikan dapat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
2) Guru mengusahakan agar siswa dapat tertarik dan memahami materi pelajaran yang disampaikan. Sehingga bagi siswa yang kemampuannya lebih, tidak merasa terlalu mudah dan bagi siswa yang kurang, tidak terlalu asing dalam menerima materi pelajaran aqidah.
3) Mengingat waktu yang terbatas, dalam menyampaikan materi akidah akhlak, guru juga memperbanyak kegiatan yang bersifat religius seperti upacara peringatan keagamaan, antara lain berdo’a, sholat berjama’ah.
Ø  Solusi terhadap Problematika yang Berhubungan dengan Pengelolaan Kelas dan Metode Pembelajaran
Pada prinsipnya guru harus memiliki tiga kompetensi yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi penguasaan atas bahan dan kompetensi dalam cara belajar mengajar”.[9] Usaha optimalisasi kreatifitas guru akan menjawab permasalahan pemilihan metode pengajaran bantu dalam proses belajar mengajar di kelas. Kreatifitas merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh guru sehingga guru tidak akan menyerah apabila ada kendala-kendala yang menghambat proses pembelajaran.
Dalam penerapan metode Akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo yang digunakan dalam suatu kegiatan belajar mengajar, guru sebaiknya tidak hanya memakai satu metode saja. Akan tetapi dalam satu jam pertemuan, guru bisa mengkombinasikan beberapa metode yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Selama metode itu tidak bertentangan, tidak akan menimbulkan masalah yang berarti. Dalam rangka mengenalkan ilmu baca tulis al-Qur’an kepada siswa, guru sebaiknya tidak hanya memakai metode baca simak saja, akan tetapi bisa dipadupadankan dengan metode yang lainnya. Dengan seperti ini pelajaran di kelas tidak akan monoton dan membosankan.
Ø Solusi terhadap Problematika pada anak didik
Ketidak ketertarikan siswa terhadap pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo bisa diatasi dengan meningkatkan minat belajar siswa. Usaha yang dilakukan dalam menumbuhkan minat siswa adalah:
a. Periksalah kondisi anak, untuk mengetahui apakah segi ini menjadi sebab, cek kepada orang tua atau guru-guru lain, apakah sikap dan tingkah laku tersebut hanya terdapat pada pelajaran saudara atau juga ditunjukkan di kelas lain dan ketika diajar oleh guru-guru yang lain.
b. Perhatikan anak diluar kelas atau sekolah, untuk melihat apakah kegiatan yang diminati anak, hal ini dapat dipakai sebagai titik tolak untuk menarik minat anak bagi kegiatan-kegiatan yang lain.
c. Cobalah menemukan sesuatu hal yang dapat menarik perhatian anak agar tergerak minatnya. Selain itu guru harus memotivasi siswa, motivasi ini ada yang bersifat internal, yaitu yang tumbuh dari dalam diri siswa, seperti rasa ingin tahu tentang materi yang dipelajari, karena materi itu menarik baginya. Adalagi motivasi eksternal, yaitu yang tumbuh akibat dari luar diri siswa. Misalnya siswa terdorong belajar karena ingin mendapat pujian atau karena takut mendapat hukuman.
Beberapa cara memotivasi antara lain:
a. “Need analysis” yaitu pemberian analisis tentang kebutuhan siterdidik, agar menyadari akan kebutuhan masa depannya.
b. Menumbuhkan keingintahuan dalam diri anak didik
c. Memberikan stimulus yang dapat merangsang respon atau kegiatan murid.
d. Memvariasikan metode mengajar dan penggunaan alat bantu mengajar.
e. Memberikan ganjaran dan hukuman”.[10]
Problematika yang dihadapi dalam pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo tentunya dapat diatasi dengan kerjasama semua komponen yang ada di MI Miftahul Huda Tondomulyo. Tidak bisa dalam mengatasi problematika yang dihadapi tersebut di bebankan hanya pada kepala sekolah atau guru, karena problematika yang dihadapi oleh sekolah cakupanya lebih besar seperti sarana dan prasarana, kurikulum dan kebijakan pemerintah.

E.       KESIMPULAN
Dari uraian diatas, dapat penulis simpulkan bahwa:
1. Proses pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo dilakukan dengan merencanakan pembelajaran dilanjutkan dengan melaksanakan pembelajaran dengan metode ceramah tanya jawab dan diakhiri dengan menutup pelajaran.
2. Problematika yang di alami dalam pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo diantaranya yaitu problematika pada guru, problematika dalam pengelolaan kelas dan metode pembelajaran serta problematika pada anak didik.
3. Solusi yang dilakukan untuk mengatasi masalah dalam pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo yaitu dengan merencanakan pembelajaran secara baik dan sesuai kebutuhan sekolah, penggunaaan metode pembelajaran yang menciptkan pembelajaran aktif agar pembelajaran lebih bermakna bagi siswa dan siswa tidak hanya menghafal materi pelajaran, melaksanakan evaluasi pembelajaran yang baik, menyediakan media pembelajarn yang dapat membantu memahamkan siswa dalam pembelajaran aqidah akhlak, penguasaan materi dengan lebih banyak mengarahkan pemahaman materi dengan belajar aktif siswa bukan mendikte, dan perlu kerja sama diantara kepala sekolah, guru dan orang tua untuk meningkatkan pembelajaran siswa.





DAFTAR PUSTAKA

Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
Abdullah Nasih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam II terj. Saifullah
Kamalie dan Hery Nor Ali, Bandung: Asy-syIfa,1988.
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta, 2004.
Djamaluddin Darwis, “Strategi Belajar Mengajar”, dalam Chabib Thoha, Dkk (eds), PBM PAI Disekolah Existensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam, Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 1998.
Hadirja Paraba, Wawasan Tenaga Guru dan Pembina Pendidikan Agama Islam, Dep. Agama RI, Jakarta: Friska Agung Insani, 2000.
J Riberu, Dasar-Dasar Kepemimpinan. Jakarta: Dep. Agama RI, Pedoman Ilmu Jaya, 1989.
 Mustaqim, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1989.
Soenarjo, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: Departemen Agama RI, 2006.
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta, 2003.
W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta:PT Grasindo, 2002.



[1] Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 2 Tahun 2008, Tentang Standar Kompetensi Lulusan Dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam Dan Bahasa Arab di Madrasah, hlm. 21
[2] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. (Jakarta: Rineka Cipta,
2003), hlm. 31
[3] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, hlm. 33
[4] J Riberu, Dasar-Dasar Kepemimpinan. (Jakarta: Dep. Agama RI, Pedoman Ilmu Jaya,
1989), hlm. 62
[5] Hadirja Paraba, Wawasan Tenaga Guru dan Pembina Pendidikan Agama Islam, Dep.
Agama RI. (Jakarta: Friska Agung Insani, 2000), hlm. 14
[6] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, hlm. 92
[7] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. Psikologi Belajar. (Jakarta : Rineka Cipta, 2004),
hlm. 78
[8] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, hlm. 54
[9] Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 92
[10] Djamaluddin Darwis, “Strategi Belajar Mengajar”, dalam Chabib Thoha, Dkk (eds),
PBM PAI Disekolah Existensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam, (
Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 1998) hlm. 210