BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan
merupakan suatu kebutuhan yang tak kalah pentingnya dalam berlangsungnya
kehidupan yang layak bagi manusia. Karena pendidikan merupakan kebutuhan
sekunder dalam kehidupan sehari-hari.tanpa pendidikan yang memadai kehidupan
manusia akan tersa berat untuk bersaing dengan keadaan zaman yang serba modern
ini. Kita sebagai generasi muda dituntut untuk mengembangkan pola hidup yang
berpedoman pada landasan atau dasar Islam yaitu Fiqih. Agar pembelajaran fiqih
tidak terlalu monotone dengan pembelajaran yang mengandalkan metode ceramah.
Model pembelajaran yang berpusat pada siswa masih sering kita temukan dilembaga
sekolah, siswa sebagai obyek dan tidak diajak aktif,dan berinteraksi timbal
balik, sehingga siswa merasa jenuh dan bosan.
Guru adalah sebagai
fasilitator, sehingga siswa merasa dilayani dan diajak aktif dalam
pembelajaran. Karena pendidikan yang berkarakter menyenangkan akan lebih mudah diterima
dan dicerna oleh siswa, maka dari itu profesionalisme guru sangat di butuhkan
di era sekarang ini. Sehingga paradikma pembelajaran fiqih dapat dilakukan
dengan pembaharuan sehingga akan tercapai kompetensi dasarnya.
B. Rumusan
masalah
Sebagaimana diuraikan diatas, maka dalam makalah ini akan
membahas beberapa masalah tentang:
1. Bagaimana Paradigma pembelajaran yang terpusat pada murid?
2. Bagaimana menurut teori Character
Building?
3. Apakah efektif dengan Penambahan jam
pelajaran?
4. Bagaimana Dalam pemilihan metode?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Paradigma Pembelajaran Yang
Terpusat Pada Murid
Paradigma secara etimologis berasal dari bahasa Inggris Paradigm berarti type
of something, model, pattern (bentuk sesuatu, model, pola) sedangkan secara
terminologis berarti a total view of
problem; a total outlook not just a problem in isolation, secara sederhana
diartikan sebagai cara pandang, cara berfikir. Dengan
demikian yang dimaksud paradigma adalah cara berfikir atau sketsa pandang
menyeluruh yang mendasari rancang bangun suatu sistem pendidikan.
Perubahan paradigma pembelajaran dari teacher centered menjadi learned
centered, memposisikan guru bertindak sebagai fasilitator dan pengetahuan lebih
banyak dibangun oleh siswa serta perolehan pengetahuan lewat komunikasi (siswa
aktif guru juga aktif).
Ada beberapa karakteristik anak di usia madrasah ibtidaiyah yang perlu
diketahui oleh guru, agar lebih mengetahui dan memahami keadaan siswa. Bukan
hanya itu pemahaman yang tepat mengenali kondisi anak dan perkembangannya, baik
yang menyangkut potensi dan keterbatasannya, akan menentukan pilihan strategi
dan metode pembelajaran yang memadai.
Pembahasan tentang metode pembelajaran yang lebih
berpusat pada siswa,
salah satunya adalah metode kerja kelompok. Metode tersebut
dapat penulis kaji
dalam uraian berikut :
a. Pengertian
Sagala (2006) mengatakan bahwa metode kerja
kelompok adalah cara pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam
beberapa kelompok, dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan
tersendiri untuk Strategi Pembelajaran 7-3 mempelajari materi pelajaran yang
telah ditetapkan untuk diselesaikan secara bersama-sama. Pada umumnya materi
pelajaran yang harus dikerjakan secara bersama-sama dalam kelompok itu
diberikan atau disiapkan oleh guru. Materi itu harus cukup kompleks isinya dan
cukup luas ruang lingkupnya sehingga dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang
cukup memadai bagi setiap kelompok. Materi hendaknya membutuhkan bahan dan
informasi dari berbagai sumber untuk pemecahannya. Masalah yang bisa
diselesaikan hanya dengan membaca satu sumber saja tentu tidak cocok untuk
ditangani melalui kerja kelompok. Kelompok dapat dibentuk berdasarkan perbedaan
individual dalam kemampuan belajar, perbedaan bakat dan minat belajar, jenis
kegiatan, materi pelajaran, dan tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan tugas
yang harus diselesaikan, siswa dapat dibagi atas kelompok paralel yaitu setiap
kelompok menyelesaikan tugas yang sama, dan kelompok komplementer dimana setiap
kelompok berbeda-beda tugas yang harus diselesaikan.
b. Tujuan
Metode
kerja kelompok yang digunakan dalam suatu strategi pembelajaran bertujuan untuk:
1. memecahkan
masalah pembelajaran melalui proses kelompok
2. mengembangkan
kemampuan bekerjasama di dalam kelompok
c.
Alasan
Penggunaaan Metode Kerja Kelompok
Guru menggunakan metode kerja kelompok dalam
pembelajaran karena:
1.
Kerja
kelompok dapat mengembangkan perilaku gotong royong dan demokratis.
2.
Kerja
kelompok dapat memacu siswa aktif belajar.
3.
Kerja kelompok tidak membosankan, siswa melakukan kegiatan belajar diluar
kelas bahkan diluar sekolah yang bervariasi, seperti observasi, wawancara, cari
buku di perpustakaan umum, dan sebagainya.
d.
Kekuatan dan Keterbatasan Metode Kerja Kelompok
1)
Kekuatan Metode Kerja Kelompok
¨
membiasakan
siswa bekerja sama, musyawarah dan bertanggung jawab
¨
menimbulkan
kompetisi yang sehat antar kelompok, sehingga membangkitkan kemauan belajar
yang sungguh-sungguh.
¨
Guru dipermudah tugasnya
karena tugas kerja kelompok cukup disampaikan kepada para ketua kelompok.
¨
Ketua
kelompok dilatih menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, dan anggotanya
dibiasakan patuh pada aturan yang ada.
2) Kelemahan Metode Kerja Kelompok
Ø Sulit membentuk kelompok yang homogen
baik segi minat, bakat, prestasi maupun intelegensi.
Ø Pemimpin kelompok sering sukar untuk
memberikan pengertian kepada anggota, menjelaskan, dan pembagian kerja
Ø Anggota kadang-kadang tidak mematuhi
tugas-tugas yang diberikan pemimpin kelompok
Ø Dalam menyelesaikan tugas, sering
menyimpang dari rencana karena kurang kontrol dari pemimpin kelompok atau guru.
Ø Sulit membuat tugas yang sama sulit dan
luasnya terutama bagi kerja kelompok yang komplementer.
B. Pembelajaran Fiqih berbasis Character
Building
Character building atau pembentukan
karakter pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak sangatlah penting. Melalui
pembentukan karakter yang tepat, siswa akan memiliki tumbuh kembang yang baik, terutama perkembangan mentalnya.
Pendidikan karakter dalam pembelajaran
fiqih adalah merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai yang diajarkan kepada
anak didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia
dan lingkungannya sehingga menjadi manusia paripurna (insan Al-Kamil)
Penerapan pendidikan dan pembentukan
karakter dapat dilakukan di madrasah ibtidaiyah pada pembelajaran fiqih dengan
beberapa cara. Berikut yang
bisa diterapkan agar pembentukan Character building untuk siswa bisa tercapai,
seperti yang dituliskan oleh soffy wibowo, diantaranya yaitu:
· Selalu berusaha dan bekerja
keras.
Tanamkan pentingnya Man yasra’,
yahshud. ‘Siapa menanam, pasti mengetam.’ Kalau ingin mendapatkan sesuatu,
harus ada upaya untuk memperolehnya. Hal ini mengajarkan pada anak didik agar
bekerja keras untuk mencapai cita-cita dan impiannya. Sehingga anak tidak akan
terjerumus pada tindakan instan yang curang dan atau menghalalkan segala cara.
Misalnya, menyontek atau beli soal ujian.
· Selalu
optimis.
Katakan Man jadda wajada, kesungguhan
adalah kunci keberhasilan. Jika kita kita bersungguh-sungguh dalam berusaha,
pasti kita akan berhasil. Hal jaza’ul ihsan illal ihsan, tidak ada balasan
kebaikan kecuali kebaikan pula. Kuatkan anak dengan kalimat optimis: Kehendak
Allah mengikuti prasangka hambaNya; Allah tidak pernah tidur; Balasan Allah
tidak akan salah alamat.
· Perintah dan
Larangan.
Perintah dan larangan hanya bantuan
sederhana dalam menolong siswa melakukan kebaikan dan menghindari kesalahan.
Sebenarnya yang paling penting adalah menanamkan kesadaran pentingnya sebuah tindakan
kebaikan dilakukan. Misal, anak perlu tahu mengapa harus bersuci sebelum salat.
Setelah itu pemahaman dan penyadaran tentang kebaikan tersebut harus diwujudkan
dalam tindakan nyata.
·
Adaptasi dan
Bergaul.
Adaptasi siswa sangatlah penting.
Biasakan anak didik tersenyum dan mengucap salam kepada tamu meski belum
dikenal. Ajari juga segera menyapa lebih dulu pada teman yang baru dijumpai
atau menyapa sambil lewat. Hal ini membuat anak didik memiliki skill
beradaptasi dan bergaul.
·
Tekun dan
Tabah.
Tanamkan sifat tekun dan tabah dalam
melakukan kegiatan-kegiatan baik kegiatan dalam pembelajaran maupun ibadah.
·
Pengendalian
diri.
Latih kemampuan mengendalikan diri
dengan bersikap sabar dan selalu bersyukur. Dalam Islam kedua sifat ini akan
mengangkat derajat orang sebagai ahli surga. Demikian pula kedua sifat ini
membentuk kebahagiaan sejati sebagaimana teori psikologi positif. Cara yang bisa digunakan adalah dengan
menjauhkan anak didik dari sumpah serapah, tidak sering mengeluh, sabar
mengantri, mengajari berbagi dan membaca fenomena orang lain yang lebih susah.
·
Bijak dan Sopan
Santun.
Membiasakan bijak dalam bicara, santun
dalam bertindak dan baik dalam bersikap. Latih siswa berbicara dengan baik
(thayyibul kalam), sebagaimana tercantum dalam QS Thaha : 44, “Maka
berbicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lembut.” Selain itu ajari anak
berbaik sangka (khusnudhan), memiliki pikiran positif, berperasaan positif dan
proaktif.
C. Wacana Penambahan
Jam Pelajaran
Semakin majunya zaman maka
semakin banyak persoalan yang dihadapi oleh manusia, terutama dalam bidang
pendidikan. Wacana penambahan jam pelajaran siswa di sekolah dari 26 jam/minggu
menjadi 30 jam/minggu memunculkan polemik, bagi kementerian pendidikan dan
kebudayaan (Kemdikbud) penambahan jam pelajaran bertujuan untuk menambah pendidikan
moral dan pendidikan karakter. Hal ini dianggap sebagai solusi untuk
meningkatkan nilai karakter peserta didik. Sementara Federasi Serikat Guru
Indonesia (FSGI) menilai rencana tersebut akan semakin menambah beban para guru,
sebab selama ini guru sudah terbebani dengan syarat mengajar didepan kelas
selama 24 jam selama seminggu. Belum lagi kewajiban dalam membuat bahan ajar,
membuat rencana pengajaran, melakukan penilaian dan pengayaan materi yang semua
itu bukan pekerjaan mudah.
Mendikbud merencanakan
penambahan jam pelajaran formal, kebijakan tersebut baru didiskusikan dengan
para pakar pendidikan, apakah kebijakan tersebut dapat berpengaruh positif
terhadap dunia pendidikan? Inilah pertanyaan yang harus dijawab, jangan sampai
mengulang kesalahan yang sudah dilakukan, dimana pendidikan karakter yang
direncanakan kemudian dipertentangkan dengan ujian nasional yang berdampak
negatif terhadap kebijakan pendidikan karakter.
Penambahan jam formal adalah penambahan
jam pelajaran di sekolah, yang nanti menjadi tantangan dari kebijakan yang
diwacanakan adalah:
1.
Pengaktifan siswa agar mau belajar lebih lama
2.
Para pendidik yang tidak mampu mengemas materi
dengan baik
3.
Suasana yang tidak kondusif yang terjadi di
beberapa sekolah
4.
Pembiayaan sekolah yang bertambah
Ini baru menjadi beberapa hal
yang menjadi tantangan dan mungkin masih banyak lainnya. Dimana melihat background
dari setiap siswa, tiap daerah dan sebagainya yang memiliki ciri khas
tersendiri.
Positifnya dari penambahan jam
adalah:
1.
Pengawasan siswa lebih mudah dalam perilaku
2.
Jam pelajaran agama terutama fiqih menjadi lebih
banyak
3.
Pemenuhan jam bagi pendidik yang sertifikasi
4.
Penilaian afeksi yang lebih mendalam.
Dari kesemua
hal tersebut perlu dipikirkan lebih mendalam lagi dengan melihat realitas yang
ada di dalam negeri ini sehingga kebijakan tersebut bisa langsung mengena pada
proses pembelajaran yang di laksanakan.
D.
Pemilihan Metode
Agar psoses belajar mengajar dapat
terlaksana dengan baik dan mencapai sasaran, maka salah satu faktor penting
yang harus diperhatikan adalah menentukan cara mengajarkan bahan pelajaran
kepada siswa dengan memperhatikan tingkat kelas, umur, dan lingkungannya tanpa
mengabaikan faktor-faktor lain. Banyak metode yang digunakan dalam mengajar.
Untuk memilih metode-metode mana yang tepat digunakan dalam menyampaikan materi
pelajaran, terlebih dahulu penulis akan menyebutkan macam-macam metode pembelajaran. Menurut Nana
Sujana, metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran diantaranya yaitu: Metode keteladanan, ceramah, tanya
jawab, diskusi, kooperatif, pemberian
tugas, demonstrasi, karyawisata, eksperimen,
bermain peran.
1. Metode keteladanan
Dalam pembelajaran, khususnya dalam fikih, metode
peneladanan sangat efektif bagi keberhasilan mengajar. Metode ini dilakukan
untuk memberikan teladan [modeling] pelaksanaan agama didepan siswa. Para Rosul
dan Ulama menggunakan metode ini dalam mengajarkan agama. Metode ini digunakan
setiap kesempatan. Dengan metode ini guru menjadi teladan dalam kebersihan dan
kesucian diri, peribadatan dan sikap yang baik.
2. Metode ceramah,
Metode ceramah adalah metode penyampean materi ajar yang
dilakukan guru secara verbal [lisan] didalam kelas. Metode ini dapat digunakan
untuk :
- menyampaikan
informasi agar siswa mengetahui sesuatu
- menerangkan
sesuatu
- menjelaskan
dua hal yang berhubungan
- memberi
motifasi kepada siswa untuk melakukan sesuatu
- menyampaikan
pendapat pribadi bia diperlukan
Dalam pembelajaran fiqih metode ini bisa di laksanakan
untuk menyampaikan hal-hal yang bersifat teoritis seperti hal-hal yang membatalkan
wudhu.
3. Metode tanya jawab
Metode tanya jawab
adalah metode penyampaian atau pembahasan materi ajar melalui kegiatan tanya
jawab antara guru dan murid baik berupa, guru bertanya murid menjawab,atau
murid bertanya guru menjawab, bisa juga murid bertanya murid menjawab.
4. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu kegiatan kelompok dalam
memecahkan masalah dan mengambil kesimpulan, hal ini dilakukan untuk tujuan
sebagai berikut :
a. melatih siswa memecahkan masalah
b. melatih siswa mengambil keputusan atas suatu masalah
c. menimbulkan kesanggupan kepada anak didik untuk
meyakinkan orang lain
d. membiasakan anak didik untuk suka mendengarkan
pendapat orang lain.
Dalam pembelajaran fiqih, metode ini dapat digunakan,
misalnya untuk menyampaikan masalah klilaffiya’ [perbedaan pendapat dalam suatu
masalah] atau untuk mendiskusikan cara menerapkan suatu hukum fiqih yang
problematis.
5. Metode pengulangan / hafalan
Dalm pembelajaran fiqih, metode pengulangan dapat
digunakan untuk menghafalkan do’a-do’a dan bacaan. bila digunakkan pada bacaan dan do’a , metode
menghafal dapat menggunakan metode asosiasi dan akronim [singkatan kata] untuk
mmengingat solat-solat fardhu, dengan tekhnik akronim misalnya anda dapat
menggunakan kata I-S-L-A-M yaitu Isya, Subuh, Luhur[dzuhur] Ashar, Maghrib.
6. Metode Resitasi[pemberian tugas ]
Dengan metode ini guru menggunakan pemberian tugas
misalnya PR sebagai cara atau alat untuk: mengaktipkan siswa dalam belajar
mandiri dan membuat anak rajin dalam melakukan latihan, sebagian besar materi
fiqih dapat disampaikan dengan metode ini, misalnya tugas menghafal do’a-do’a
dan bacaan sholat.
7. Metode demonstrasi,
Metode demontrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan
memeragakan suatu proses kejadian. Dalam pembelajaran fiqih metode demontrasi diantaranya
dapat digunakan untuk melatih gerakan wudhu, sholat dan haji.
8. Metode kisah / cerita
Metode cerita sangat disenangi oleh anak didik, metode
ini dapat digunakan untuk menyentuh rasa anak didik. Dalam pembelajaran fiqih metode ini berguna menyampaikan
hikmah-hikmah suatu perbuatan atau untuk membangkitkaan perasaan khouf [takut], ridlo dan cinta pada Allah
SWT, juga mengarahkan seluruh perasaan
siswa sehingga bertumpuk pada puncak yaitu kesimpulan kisah.
9. Metode inquiri
Metode inquiri merupakan metode yang mempersiapkan
peserta didik pada situasi untuk melakukan ekperimen sendiri, metode ini mengajak anak untuk melakukan sesuatu.menyajikan
pertanyaan,mencari jawaban sendiri serta menghubungkan penemuan yang lain.
Dalam metode ini dapat diginakan untuk menyelidiki gerekan ibadah, hikmah –
hikmah ibadah.
10.
Metode bermain peran
Metode bermain perana adalah cara mengajar dengan
mendemontrasikan cara bertingkah laku dalam hubungan sosial. Hal ini dilakukan
diantaranya untuk : menerangkan suatu kegiatan yang menyangkut orang
banyak,melatih anak didik menyelesaaikan masalah, sosial dan psikologis,
melatih anak agar dapat bergaul dengan sikap yang baik. Dalam pembela fiqih
metode ini dapat di gunakan, misalnya : menerangkan pembagian zakat fitrah
melalui panitia, menjelaskan prosesi
solat jum’at dan mempaktekkannya.
Perlu diingat kembali bahwa
banyak metode yang dapat diterapkan, dan apapun yang dipilih sebaiknya
dipertimbangkan sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri,
tidak boleh hanya karena merasa paling mudah dan karena menyenanginya saja.
BAB
III
KESIMPULAN
Dari uraian diatas, dapat penulis simpulkan bahwa:
- Paradigma pembelajaran terpusat
pada murid adalah sebuah cara pandang pembelajaran yang mana guru bertindak
sebagai fasilitator dan pengetahuan lebih banyak dibangun oleh siswa serta
perolehan pengetahuan lewat komunikasi (siswa aktif guru juga aktif). Salah
satu metode pembelajaran yang lebih berpusat
pada siswa adalah
metode kerja kelompok.
- Pembelajaran Fiqih berbasis Character
Building merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai yang diajarkan kepada anak
didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia
dan lingkungannya sehingga menjadi manusia paripurna (insan Al-Kamil).
- Wacana Penambahan Jam Pelajaran masih pro dan kontra, oleh kementerian pendidikan
dan kebudayaan (Kemdikbud) penambahan jam pelajaran bertujuan untuk menambah
pendidikan moral dan pendidikan karakter. Hal ini dianggap sebagai solusi untuk
meningkatkan nilai karakter peserta didik. Sementara Federasi Serikat Guru
Indonesia (FSGI) menilai rencana tersebut akan semakin menambah beban para
guru.
- Banyak metode yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar, diantaranya
yaitu: Metode
keteladanan, ceramah, tanya jawab, diskusi, kooperatif, pemberian tugas,
demonstrasi, karyawisata, eksperimen,
bermain peran. Diantara faktor
dalam memilih metode yang akan digunakan yaitu memperhatikan
tingkat kelas, umur, dan lingkungannya serta
mempertimbangkannya sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Abimanyu,
Soli dkk. Strategi Pembelajaran.
Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. 2008.
Hidayatullah, M.Furqon. Guru Sejati : Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas.
Surakarta. Yuma Pustaka. 2009.
Munir, Abdullah. Pendidikan
Karakter Membangun Karakter Anak Sejak Dari Rumah. Yogyakarta. 2010.
Nana
Sujana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algesindo. 1986.
http://tetesan-ilmuku.blogspot.com/2012/09/wacanapenambahan.pelajaran
http://belajarpsikologi.com/tips-meningkatkan-daya-ingat
http://www.article.blogspot.com/2008/07character.building.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar