BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bimbingan dan konseling merupakan
salah satu komponen dalam keseluruhan sistem pendidikan khususnya di sekolah.
Guru sebagai salah satu pendukung unsur pelaksana pendidikan yang mempunyai
tanggung jawab sbagai pendukung pelaksana layanan bimbingan pendidikan di
sekolah, di tuntut untuk memiliki wawasan yang memadai terhadap konsep –konsep
dasar bimbingan dan konseling di sekolah.
Sebagai individu, siswa memiliki
berbagai potensi yang dapat dikembangkan.Kenyataan yang dihadapi, tidak semua
siswa menyadari potensi yang dimiliki untuk kemudian memahami dan
mengembangkannya. Disisi lain sebagai individu yang berinterksi dengan
lingkungan, siswa juga tidak dapat lepas dari masalah.
Menyadari hal di atas siswa perlu
bantuan dan bimbingan orang lain agar dapat berindak dengan tepat sesuai dengan
potensi yang ada pada dirinya. Sekolah sebagai institusi pendidikan tidak hanya
berfungsi memberikan pengetahuan tetapi juga mengembangkan
kesluruhan kepribadian anak. Sebagai profesional guru memegang
peran penting dalam membantu murid mengembangkan seluruh aspek kepribadian dan
lingkungannya.
B. Rumusan
masalah
Sebagaimana diuraikan diatas, maka dalam makalah ini akan
membahas beberapa masalah tentang:
1. Apa
Pengertian Bimbingan dan Konseling?
2. Apa Prinsip-Prinsip
Bimbingan
Konseling?
3. Apa Saja
Asas Bimbingan
Konseling?
4. Apa Tujuan dari
Bimbingan Konseling?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Bimbingan dan Konseling
1.
Pengertian
Bimbingan
Bimbingan
dan konseling merupakan terjemahan dari istilah “Guidance and Counseling” dalam bahasa Inggris. Sesuai dengan
Istilahnya, maka bimbingan dapat diartikan secara umum sebagai bantuan.
Bimbingan
merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang yang ahli, namun
tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian dari bimbingan. Pengertian
tetang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya sejak awal abad
ke-20, yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu muncul
rumusan tetang bimbingan sesuai dengan perkembangan pelayanan bimbingan,
sebagai suatu pekerjaan yang khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya.
Pengertian
bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli memberikan pengertian yang saling
melengkapi satu sama lain. Maka untuk memahami pengertian dari bimbingan perlu
mempertimbangkan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli sebagai
berikut :“Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat
memilih, mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan
dalam jabatan yang dipilihnya” (Frank Parson ,1951). Frank Parson merumuskan
pengertian bimbingan dalam beberapa aspek yakni bimbingan diberikan kepada
individu untuk memasuki suatu jabatan dan mencapai kemajuan dalam jabatan.
Pengertian ini masih sangat spesifik yang berorientasi karir. “Bimbingan
membantu individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya
sendiri” (Chiskolm,1959). Pengertian bimbingan yang dikemukan oleh Chiskolm
bahwa bimbingan membantu individu memahami dirinya sendiri, pengertian menitik
beratkan pada pemahaman terhadap potensi diri yang dimiliki. “Bimbingan
merupakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu”
(Bernard & Fullmer ,1969).
Pengertian
yang dikemukakan oleh Bernard & Fullmer bahwa bimbingan dilakukan untuk
meningkatakan pewujudan diri individu. Dapat dipahami bahwa bimbingan membantu
individu untuk mengaktualisasikan diri dengan lingkungannya. “Bimbingan sebagai
pendidikan dan pengembangan yang menekankan proses belajar yang sistematik”
(Mathewson,1969). Mathewson mengemukakan bimbingan sebagai pendidikan dan
pengembangan yang menekankan pada proses belajar. Pengertian ini menekankan
bimbingan sebagai bentuk pendidikan dan pengembangan diri, tujuan yang
diinginkan diperoleh melalui proses belajar.
Dari
beberapa pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli maka dapat
diambil kesimpulan tentang pengertian bimbingan yang lebih luas, bahwa
bimbingan adalah : “Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara
berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah
mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami
dirinya, lingkunganya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan
lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk
kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat”.
2. Pengertian Konseling
Konseling
adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut
konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut konsele) yang
bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Istilah ini pertama kali
digunakan oleh Frank Parsons di tahun 1908 saat ia melakukan konseling karir.
Selanjutnya juga diadopsi oleh Carl Rogers yang kemudian mengembangkan
pendekatan tetapi yang berpusat pada klien (client centered).
Sedangkan
konseling menurut Prayitno dan Erman Amti dalam buku Dasar-Dasar Bimbingan
Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara
konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang
mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya
masalah yang dihadapi klien. Sejalan dengan itu, Winkel mendefinisikan konseling sebagai serangkaian
kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli/klien secara
tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri
terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.
Dari
beberapa pengertian konseling di atas dapat dipahami bahwa konseling adalah
usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat
mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah
khusus. Dengan kata lain, teratasinya masalah yang dihadapi oleh konseli/klien.
Jadi Pengertian
bimbingan konseling adalah Pelayanan bantuan untuk peserta didik baik
individu/kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal dalam hubungan
pribadi, sosial, belajar, karir; melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan
pendukung atas dasar norma-norma yang berlaku.
B. Prinsip-Prinsip Bimbingan Konseling
Prinsip-prinsip yang dimaksud ialah
landasan teoritis yang mendasari pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling,
agar layanan tersebut dapat lebih terarah dan berlangsung dengan baik. Bagi
para konselor dalam melaksanakan kegiatan ini perlu sekali memperhatikan
prinsip-prinsip tersebut.
Berikut ini di kemukakan rumusan tentang prinsip-prinsip Bimbingan dan
Konseling.
v Prinsip-prinsip
Umum
Dalam prinsip umum ini dikemukakan beberapa acuan umum yang mendasari semua
kegiatan bimbingan dan konseling. Antara lain:
- Karena
bimbingan itu berhubungan dengan sikap dan tingkah laku individu, perlu
diingat bahwa sikap dan tingkah laku individu itu terbentuk dari segala
aspek kepribadian yang unik dan ruwet, sikap dan tingkah laku tersebut
dipengaruhi oleh pengalaman-pengalamannya. Oleh karena itu, dalam
pemberian layanan perlu dikaji kehidupan masa lalu klien, yang
diperkirakan mempengaruhi timbulnya masalah tersebut.
- Perlu dikenal dan dipahami karakteristik
individual dari individu yang dibimbing.
- Bimbingan diarahkan kepada bantuan yang diberikan
supaya individu yang bersangkutan mampu membantu atau menolong dirinya
sendiri dalam menghadapi kesulitan-kesulitannya.
- Program bimbingan harus dipimpin oleh seorang
petugas yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan sanggup bekerja
sama dengan para pembantunya serta dapat dan bersedia mempergunakan
sumber-sumber yang berguna di luar sekolah.
- Pelaksanaan program bimbingan harus sesuai dengan
program pendidikan di sekolah bersangkutan.
- Terhadap
program bimbingan harus senantiasa diadakan penilaian secara teratur untuk
mengetahui sampai di mana hasil dan rencana yang dirumuskan terdahulu.
v Prinsip-prinsip
khusus
a.
Prinsip-Prinsip yang berkenaan
dengan sasaran layanan:
1.
Bimbingan dan konseling melayani
semua individu atau siswa tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, agama, dan
status sosial ekonomi.
2.
Bimbingan dan konseling berurusan
dengan pribadi dan tingkah laku individu yang unik dan dinamis.
3.
Bimbingan dan konseling
memperhatikan sepenuhnya tahap dan berbagai aspek perkembangan individu.
4.
Bimbingan dan konseling memberikan
perhatian utama kepada perbedaan individual yang menjadi orientasi pokok
pelayanannya.
b.
Prinsip-Prinsip yang Berhubungan
dengan permasalahan Individu
1. Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal-hal
yang menyangkut kondisi mental/fisik individu terhadap penyesuaian dirinya.
2. Kesenjangan sosial, ekonomi, dan kebudayaan
merupakan faktor timbulnya massalah pada individu dan kesemuanya menjadi
perhatian utama pelayanan bimbingan.
c. Prinsip-prinsip yang berkaitan dengan program
layanan
1. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral
dari pendidikan dan pengembangan individu, karena itu program bimbingan harus
disesuaikan dan dipadukan dengan program pendidikan serta pengembangan peserta
didik.
2. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel
disesuaikan dengan kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga.
3. Program bimbingan dan konseling disusun secara
berkelanjutan dari jenjang pendidikan yang terendah sampai yang tinggi.
4. Terhadap isi dan pelaksanaan program bimbingan dan
konseling perlu adanya penilaian teratur dan terarah.
d. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan pelaksanaan
pelayanan
1. Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk
pengembangan individu yang akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalam
menghadapi permasalahan.
2. Dalam proses Bimbingan dan konseling keputusan yang
diambil dan hendak dilakukan oleh individu hendaknya atas kemauan individu itu
sendiri, bukan karena kemauan atas desakan dari pembimbing atau pihak lain.
3. Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga
ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
4. Kerjasama
antara pembimbing, guru, dan orang tua amat menentukan hasil pelayanan
bimbingan.
C.
Asas Bimbingan Konseling
Dalam
menyelenggarakan layanan bimbingan konseling disekolah hendaknya mengacu pada
asas-asas bimbingan dan konseling. Asas-asas bimbingan konseling yaitu
ketentuan-ketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan itu, asas-asas yang dimaksudkan adalah:
1. Asas
Kerahasiaan
Dirahasiakannya
segenap data dan keterangan peserta didik (klien), yaitu data atau keterangan
yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain.
2. Asas
Kesukarelaan
Adanya
kesukarelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang
diperuntukkan baginya.
3. Asas
Keterbukaan
Peserta
didik (klien) bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Guru pembimbing
(konselor) berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien).
4. Asas
Kegiatan
Peserta
didik (klien) dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan
bimbingan.
5. Asas
Kemandirian
Peserta
didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling
diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri.
6. Asas
Kekinian
Obyek
sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi
peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. Kondisi masa lampau dan masa depan
dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan
diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang.
7. Asas
Kedinamisan
Isi
layanan terhadap peserta didik/klien hendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton,
dan terus berkembang serta berkelanjutan.
8. Asas
Keterpaduan
Layanan
dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing
maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan terpadukan.
9. Asas
Kenormatifan
Segenap
layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma, baik
norma agama, hukum, peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan –
kebiasaan yang berlaku.
10. Asas Keahlian
Layanan
dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah
profesional.
11. Asas Alih
Tangan Kasus
Jika
pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling
secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya
dapat mengalih-tangankan kepada pihak yang lebih ahli.
12. Asas Tut Wuri
Handayani
Bimbingan
dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi
(memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, dan memberikan rangsangan
dan dorongan, serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien)
untuk maju.
D.
Tujuan Bimbingan Konseling
1. Tujuan Umum
Tujuan
umum dari layanan Bimbingan dan Konseling adalah sesuai dengan tujuan pendidikan sebagaimana dinyatakan dalam
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Tahun 1989 (UU No. 2/1989),
yaitu terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, yang beriman, dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang
mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan
(Depdikbud, 1994 : 5).
2.
Tujuan Khusus
Secara
khusus layanan Bimbingan dan Konseling bertujuan untuk membantu siswa agar
dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan meliputi aspek pribadi, sosial,
belajar dan karier. Bimbingan pribadi – sosial dimaksudkan untuk mencapai
tujuan dan tugas perkembangan pribadi – sosial dalam mewujudkan pribadi yang
taqwa, mandiri, dan bertanggung-jawab. Bimbingan belajar dimaksudkan untuk
mencapai tujuan dan tugas perkembangan pendidikan. Bimbingan karier dimaksudkan
untuk mewujudkan pribadi pekerja yang produktif.
BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian diatas, dapat penulis
simpulkan bahwa:
-
Bimbingan konseling adalah Pelayanan
bantuan untuk peserta didik baik individu/kelompok agar mandiri dan berkembang
secara optimal dalam hubungan pribadi, sosial, belajar, karir; melalui berbagai
jenis layanan dan kegiatan pendukung atas dasar norma-norma yang berlaku.
-
Prinsip-prinsip Bimbingan Konseling
meliputi Prinsip-prinsip Umum dan prinsip-prinsip khusus.
-
Asas Bimbingan
Konseling meliputi asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kekinian, kemandirian,
kegiatan, kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan, keahlian, alih tangan, dan
tut wuri handayani.
-
Tujuan Bimbingan Konseling meliputi
tujuan umum dan tujuan khusus.
DAFTAR
PUSTAKA
Amin Budiamin, Setiawati. 2009. Bimbingan Konseling. Jakarta, Direktorat
Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia.
Prayitno,
Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan
Dan Konseling, Jakarta, Rineka
Cipta.
Heru Mugiarso,
2006. Bimbingan dan Konseling, Semarang. UPT MKK Universitas Negeri Semarang.
Saring Marsudi, 2010. Layanan Bimbingan Konseling Di Sekolah.
Surakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
http://othersidemiku.wordpress.com/2013/01/24/prinsip-prinsip-bimbingan-konseling/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar