PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MI MIFTAHUL HUDA
TONDOMULYO JAKENAN PATI
A. Latar
Belakang
Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu mata pelajaran
PAI yang mempelajari tentang rukun iman yang dikaitkan dengan pengenalan dan
penghayatan terhadap al-asma' al-husna, serta penciptaan suasana
keteladanan dan pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji dan adab Islami
melalui pemberian contoh-contoh perilaku dan cara mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari. Secara substansial mata pelajaran Akidah-Akhlak memiliki
kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan al-akhlakul
karimah dan adab Islami dalam kehidupan sehari-hari sebagai manifestasi
dari keimanannya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta Qada dan Qadar.[1]
Pembelajaran akidah akhlak di MI adalah bagian integral dari pendidikan
agama. Walaupun bukan satu-satunya factor yang menentukan dalam pembentukan
watak dan kepribadian peserta didik. Tetapi secara subtansial mata pelajaran
akidah akhlak memiliki konstribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta
didik untuk mengamalkan nilai-nilai keyakinan (tauhid) dan akhlakul karimah
dalam kehidupan sehari hari.
Pelaksanaan pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda
Tondomulyo Jakenan Pati ternyata tidaklah mudah. Adanya anggapan bahwa akidah
akhlak adalah pelajaran yang hanya dihafal membuat peserta didik menjadi statis
dan kurang berapresiasi. Hal ini jika dibiarkan berlarut-larut tentunya akan
sangat membahayakan akhlak dan akidah generasi bangsa. Pengaruh yang saat ini bisa
kita lihat dari permasalahan itu adalah dengan menurunnya moralitas peserta
didik dalam berperilaku yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Islam dalam
kehidupan sehari-hari.
Kegiatan pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo
Jakenan Pati ini, yang memang anggapan para siswa umumnya tidak ada orientasi
ke depan yang jelas berbeda dengan mata pelajaran yang lain, seperti halnya
belajar bahasa Inggris biar lebih keren, atau pada pelajaran MIPA yang ke
depannya akan menjadi teknisi yang banyak dibutuhkan oleh banyak instansi.
Pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan
Pati masih jauh dari ideal, karena di lihat dari prestasi belajar nilai
ketuntasan belajar aqidah akhlak hanya berkisar 50% dari seluruh jumlah siswa
MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati Meskipun pelaksanaan pembelajaran
akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati , metode yang
digunakan berbeda antara guru yang satu dengan guru yang lain. Anehnya siswa
masih banyak yang tidak minat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran akidah
akhlak. Ini adalah sebuah bentuk ketidakseriusan mereka terhadap kegiatan
pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati. Di luar
problem yang dialami murid, proses belajar mengajar akidah akhlak, penggunaan
metode memang belum ada yang efektif, karena siswa tidak merasa nyaman dalam
pelajaran akidah akhlak, yang akibatnya siswa memilih untuk tidak mengikuti
proses belajar mengajar akidah akhlak dari pada yang ikut.
Penurunan prestasi belajar dan tingkah laku yang santun yang
sesuai dengan ajaran agama Islam menunjukkan adanya hal yang tidak menarik dari
pelajaran akidah akhlak yang diajarkan di pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul
Huda Tondomulyo Jakenan Pati. Penelitian ini menarik dilakukan karena semangat
berakhlakul karimah yang ditanamkan sejak kecil akan dapat membentuk perilaku
yang sesuai dengan ajaran agama Islam apabila peserta didik tersebut dewasa.
Apabila hal ini tercapai maka kemajuan Islam nantinya akan terwujud. Oleh
karena itu, penyampaian pendidikan agama Islam dan segala komponen yang ada
perlu dikemas secara menarik diantaranya yaitu strategi mengajar dan segala hal
yang berkaitan dengan proses belajar mengajar haruslah menarik minat peserta
didik. Dan perlu juga untuk dicarikan solusi atas segala permasalahan yang
muncul di lapangan saat proses belajar mengajar berlangsung. Berdasarkan latar
belakang diatas penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang Problematika
Pembelajaran Aqidah Akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati.
B. Rumusan Masalah
Sebagaimana
diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana
proses pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati?
2.
Problematika
apa saja yang di alami dalam pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda
Tondomulyo Jakenan Pati?
3.
Solusi
apa sajakah yang dilakukan untuk mengatasi masalah dalam pembelajaran akidah
akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati?
C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas
maka dalam penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui proses pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul
Huda Tondomulyo Jakenan Pati.
2. Untuk mengetahui Problematika yang di alami dalam pembelajaran
akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati.
3. Untuk mengetahui Solusi yang dilakukan untuk mengatasi masalah
dalam pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Jakenan Pati.
D. Hasil Penelitian
1. Proses pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda
Tondomulyo Jakenan Pati
Ada beberapa hal yang terkait dengan proses pembelajaran akidah akhlak
di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati yaitu:
1. Tujuan pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda
Tondomulyo Jakenan Pati.
Sistem pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo
Jakenan Pati menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Proses
pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati mempunyai
komponen pembelajaran antara lain tujuan, yaitu yang memberikan ke arah mana
pembelajaran aqidah akhlak berjalan. Materi yaitu materi apa yang harus
disampaikan kepada peserta didik. Metode yaitu bagaimana cara menyampaikan
materi yang telah diberikan kepada peserta didik. Sedangkan media yang dimaksud
yaitu media apa saja yang digunakan pada materi yang akan disampaikan.
Adapun tujuan umum yang ingin dicapai dalam pembelajaran akidah
akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati yaitu untuk terbentuknya
peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi pekerti yang
luhur (berakhlak mulia), memiliki pengetahuan tentang ajaran pokok ajaran agama
Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta memiliki
pengetahuan yang luas dan mendalam tentang Islam sehingga memadai baik untuk
kehidupan pribadi atau bermasyarakat maupun untuk melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi.
2. Materi Pembelajaran Akidah Akhlak
Muatan materi pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda
Tondomulyo Jakenan Pati diberlakukan materi-materi dalam akidah akhlak masih
tetap didalamnya termuat inti pokok dari ajaran Islam yang memuat akidah
(masalah keimanan) dan akhlak baik akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap
sesama manusia, atau akhlak terhadap lingkungan.
3. Interaksi guru dan siswa
Interaksi yang dilakukan dalam pembelajaran aqidah akhlak dengan
menggunakan dilakukan dua arah yaitu antara guru dan peserta didik saling
menghargai dan menghormati dalam proses belajar mengajar, guru memberikan
pertanyaan kepada siswa agar siswa aktif menjawab.
4. Strategi Pembelajaran Akidah Akhlak
Strategi yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran Akidah
Akhlak dilakukan dengan mengelompokkan siswa yaitu diantara siswa melakukan
pembelajaran tutor sebaya, siswa mempunyai kemampuan lebih mejdi tutor bagi
siswa yang kurang tahu.
5. Pendekatan dan Prinsip
Dalam kegiatan pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda
Tondomulyo Jakenan Pati menggunakan beberapa pendekatan, diantaranya:
a. Pendekatan Rasional, yaitu suatu pendekatan dalam proses pembelajaran
yang lebih menekankan kepada aspek penalaran. Pendekatan ini dapat berbentuk
proses berfikir induktif yang dimulai dengan memperkenalkan fakta-fakta, konsep, informasi atau
contohcontoh dan
kemudian ditarik suatu generalisasi (kesimpulan) yang bersifat menyeluruh (umum) atau proses
berfikir deduktif yang dimulai dari kesimpulan umum dan kemudian dijelaskan secara rinci melalui contoh-contoh dan bagian-bagiannya.
b. Pendekatan emosional, yakni upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam menghayati yang
sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa.
c. Pendekatan pengalaman, yakni guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktekkan dan
merasakan hasil-hasil pengalaman ibadah.
d. Pendekatan pembiasaan, yakni guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berperilaku sesuai
dengan ajaran Islam.
e. Pendekatan fungsional, yakni guru dalam menyajikan materi pokok dari segi manfaatnya bagi peserta didik
dalam kehidupan sehari-hari.
f. Pendekatan keteladanan, yaitu guru memberi contoh yang baik
dalam bergaul dan berperilaku.
Sementara itu dalam kegiatan pembelajaran akidah akhlak guru menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Berpusat pada peserta didik. Bahwa setiap peserta didik itu memiliki perbedaan minat (interest), kemampuan (ability),
kesenangan (prefence), pengalaman (experience) dan cara belajar (learning style).
Kegiatan pembelajaran perlu menempatkan mereka sebagai subyek belajar dan mendorong mereka untuk mengembangkan segenap bakat
dan potensinya secara optimal.
b. Belajar dengan melakukan. Peserta didik melakukan aktifitas karena itu guru memberi kesempatan kepada peserta didik diberi
kegiatan nyata yang melibatkan dirinya. Untuk mencari dan menemukan sendiri, sehingga akan menjadi kegembiraan sendiri dan
peserta didik memperoleh harga diri sesuai dengan hasil karyanya.
c. Perpaduan kompetensi, kerjasama dan solidaritas. Bahwa setiap peserta didik
diharapkan berkompetensi, bekerja sama dan mengembangkan solidaritasnya untuk mengembangkan kompetensi yang sehat pada proses
pembelajaran berlangsung.
6. Metode Pembelajaran Akidah Akhlak
Pelaksanaan pembelajaran akidah akhlak antara lain dengan menggunakan metode-metode yang sudah ada
yang perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan materi yang diajarkan. Diantaranya metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran antara
lain:
1) Metode ceramah
Berdasarkan
observasi dan wawancara dengan guru metode ini biasanya digunakan guru pada
awal pelajaran. Metode ini bisa dikatakan sebagai prolog dari awal proses
pembelajaran.
2) Metode Tanya jawab
Ini
dilakukan agar peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran,
sehingga proses pembelajaran tidak bersifat satu arah, melainkan ada feed back
dengan peserta didik.
3)
Metode Demonstrasi
Metode ini
merupakan metode interaksi edukatif yang sangat efektif dalam membantu murid
untuk mengetahui proses pelaksanaan sesuatu, apa unsur yang terkandung di
dalamnya, dan cara mana yang paling tepat dan sesuai, melalui pengamatan
induktif.
4) Metode diskusi
Metode
diskusi merupakan metode yang diterapkan oleh semua guru, sebagai upaya untuk
mengembangkan pola pikir siswa
7. Media Pembelajaran Akidah Akhlak
Selain itu media pembelajaran yang digunakan sesuai materi yang diajarkan.
Kreatifitas guru dalam menggunakan media sangat berpengaruh dalam keberhasilan
pembelajaran. memfasilitasi semua sumber belajar sesuai kemampuan, baik sumber
belajar yang skala besar misal gedung, laboratorium, perpustakaan, sarana
ibadah, buku-buku, alat peraga dan sebagainya. Selain itu guru akidah akhlak
juga dituntut oleh sekolah untuk menciptakan media sendiri yang dapat
memperlancar kegiatan pembelajaran akidah akhlak.
Dalam pelaksanaan pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda
Tondomulyo menggunakan tiga bentuk yaitu:
a. Bentuk kegiatan intrakurikuler
Kegiatan
intrakurikuler ini yaitu proses pembelajaran yang diadakan di ruang kelas,
artinya guru menyampaikan secara langsung materi pembelajaran di ruang kelas
pada jam pelajaran. Adapun alokasi waktu pada setiap tatap muka adalah satu jam
pelajaran.
b. Bentuk kegiatan kookurikuler
Adapun
kegiatan pembelajaran dalam bentuk kookurikuler ini diadakan secara tidak
langsung bertatap muka di dalam ruang kelas seperti pada kegiatan intra
kurikuler.
Dalam
kegiatan kokurikuler ini guru hanya memberikan tugas kepada peserta didik untuk
dikerjakan di rumah baik dalam bentuk tugas kelompok maupun tugas secara
individu. Guru hanya memberikan petunjuk secara umum tentang bagaimana cara
yang harus ditempuh untuk mengerjakan tugas tersebut. Tugas-tugas tersebut
dapat berbentuk mengikuti kegiatan keagamaan dan membuat laporan tentang
kegiatan keagamaan tersebut seperti kegiatan pernikahan dan lain-lain. Program
kokurikuler ini bertujuan untuk mendidik para peserta didik untuk dapat belajar
mandiri, dapat mengatur waktu dan dapat bertanggung jawab.
c. Bentuk kegiatan ekstrakulikuler
Pada
kegiatan ini, MI Miftahul Huda Tondomulyo melaksanakan program pendidikan agama
guru tidak terlibat secara langsung tetapi hanya sebagai pengarah dan
pembimbing pasif dan seharusnya peserta didiklah yang harus aktif melaksanakan
bentuk kegiatan yang ada. Pada dasarnya pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler
ini merupakan bentuk manifestasi dari kegiatan intra kurikuler yang terbatas pada
dataran teori saja. Dalam kegiatan ekstra ini teori yang diperoleh dari kegiatan
intra kurikuler diwujudkan dan dipraktekkan dalam berbagai macam kegiatan
social keagamaan secara nyata dalam masyarakat, seperti pelaksanaan
penyelenggaraan peringatan hari besar Islam, pengumpulan zakat fitrah bakti
social, dan lain-lain. Kegiatan ekstra kurikuler ini bertujuan agar peserta
didik dapat bertambah wawasan social keagamaannya dan mendidik para peserta didik
agar terlatih dalam bersosialisasi, berinteraksi, dengan lingkungan sekitar dimanapun
nantinya dia berdominasi. Dengan demikian ketika peserta didik tersebut
benar-benar terjun kemasyarakat akan mampu dengan cepat beradaptasi dan menjadi
orang yang sosialis, agamis, dan tidak menjadi individu yang egois.
2. Problematika Pembelajaran Akidah Akhlak di
MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati
Problematika pembelajaran akidah akhlak di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul
Huda Tondomulyo Jakenan Pati diantaranya yaitu:
Ø Problematika pada guru
Setiap guru seharusnya dapat mengajar di depan kelas. Bahkan mengajar
itu dapat dilakukan pula pada sekelompok siswa di luar kelas atau di mana saja.[2] Namun kenyataannya tidak semua guru
dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Padahal seorang guru memiliki tanggung
jawab bukan hanya mengajar namun masih banyak yang harus dilakukannya. Dalam
buku belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya[3] mengemukakan tanggung jawab guru cukup
banyak yaitu meliputi hal-hal berikut ini:
a. Memberi bantuan kepada
siswa dengan menceritakan sesuatu yang baik, yang dapat menjamin kehidupannya.
b. Memberikan jawaban
langsung pada pertanyaan yang diminta oleh siswa.
c. Memberikan kesempatan
untuk berpendapat.
d. Memberikan evaluasi.
e. Memberikan kesempatan
menghubungkan dengan pengalamannya sendiri.
Hal di atas merupakan
sebagian kecil dari tanggung jawab guru. Disamping tanggung jawab yang lain
yang cukup penting. Tanggungjawab yang sangat penting itu adalah menyampaikan
materi dengan baik kepada siswa serta bagaimana mendidik siswa agar memiliki
ahklak yang mulia. Guru diharapkan tidak hanya mampu mengajar saja namun kemampuan
yang lain seperti yang telah disebutkan di atas juga harus dikuasai. Karena
guru di tuntut agar dapat menjadi seorang organisator yaitu orang yang
mengorganisasikan sesuatu. Orang yang dapat mengorganisasikan segala sesuatu
dengan baik maka dia akan dapat mengendalikanya.
Pekerjaan mengajar bukanlah
hal yang ringan. Seorang guru harus berhadapan dengan sekelompok orang, mereka
merupakan sekelompok makhluk hidup yang memerlukan bimbingan dan pembinaan menuju
pada kedewasaan.
Ø Problematika pada sistem pengelolaan kelas dan metode pembelajaran.
Problematika yang dihadapi
berikutnya adalah yang berkaitan dengan sistem pengelolaan dan metode
pengajaran. System pengelolaan yang diterapkan oleh sebuah lembaga pendidikan
terkadang mendatangkan problematika tersendiri. Sistem pengelolaan terhadap
sebuah lembaga atau yang penulis katakan dengan management merupakan hal yang tidak
kalah pentingnya. Bagaimana pemimpin lembaga tersebut mengelola lembaganya merupakan
salah satu hal yang juga akan ikut mempengaruhi terhadap perjalanan pendidikan.
Pemimpin lembaga seharusnya dapat memanajemen dengan baik semua komponen yang
ada agar dapat menjadi satu kesatuan yang utuh. Mengusahakan keserasian antara
kegiatan tiap orang dan tiap pihak demi mencapai sasaran dan tujuan bersama
atau yang disebut dengan koordinasi merupakan inti manajemen.[4]
Dengan adanya manajemen yang
baik dari seorang pemimpin maka diharapkan perjalanan pendidikan pada lembaga
tersebut dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang diinginkan.
Dengan seperti itu maka problematika yang berkaitan dengan manajemen akan dapat
di minimalisir. Selain problematika yang berkaitan dengan pengelolaan juga ada problematika
yang berkaitan dengan metode pengajaran. Terkadang metode yang diterapkan oleh
guru tidak cocok bagi siswa dan siswa tidak dapat menangkap pelajaran dengan
baik. Masih amat banyak guru yang belum memahami metode yang bagaimana yang
harus ia terapkan dalam menyampaikan suatu materi. Sebelum menerapkan metode
yang akan diterapkan seharusnya guru memahami tugas pokoknya. Dengan mengetahui
tugas pokoknya maka guru akan memiliki tanggung jawab yang besar dan berusaha melaksanakan
tugasnya dengan baik. Dalam buku Wawasan Tugas Tenaga Guru dan Pembina
Pendidikan Agama Islam Drs. Hadirja Paraba menyampaikan tugas pokok guru.[5] antara lain:
a. Mengajar
b. Mendidik
c. Melatih
d. Menilai atau mengevaluasi
Dengan mengetahui tugas
pokok seperti di atas tentunya guru akan berpikir apa yang harus dilakukan
sebagai pelaksanaan tugas pokoknya. Dengan seperti itu guru telah berusaha
mencari cara atau jalan yang akan ditempuhnya. Seperti dalam hal mengajar
tentunya guru akan berpikir bagaimana cara mengajarnya, apa yang akan
diajarkanya, alat apa yang akan digunakan, dan lain sebagainya. Dalam hal
mengajar tentunya diinginkan hal yang efektif. Dan mengajar yang efektif adalah
mengajar yang dapat membawa belajar siswa yang efektif pula.[6] Dalam hal mengajar yang efektif ini Drs.
Slameto dalam bukunya Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya juga menyampaikan
syarat-syarat bagi mengajar yang efektif. Beliau menyampaikan untuk
melaksanakan mengajar yang efektif diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:
a. Belajar secara aktif baik mental maupun fisik.
b. Guru harus mempergunakan banyak metode pada waktu mengajar.
c. Motivasi, guru hendaknya memberikan motivasi yang tepat bagi
anak.
d. Kurikulum yang baik dan seimbang.
e. Guru perlu mempertimbangkan perbedaan individual.
f. Selalu membuat perencanaan sebelum mengajar.
g. Sugesti yang kuat akan merangsang siswa untuk rajin belajar.
h. Guru memiliki keberanian menghadapi siswa-siswanya.
i. Guru dapat menciptakan suasana yang demokratis di sekolah.
j. Dalam penyampaian materi
guru perlu memberikan permasalahan yang merangsang anak untuk berfikir.
k. Pelajaran yang diberikan
pada siswa perlu diintegrasikan.
l. Pelajaran di sekolah
dihubungkan dengan kehidupan nyata di masyarakat.
m. Guru memberikan kebebasan
pada siswa untuk dapat menyelidiki sendiri, mengamati sendiri, belajar sendiri,
memecahkan masalah sendiri.
n. Pengajaran remedial untuk
mengulangi apa yang pernah disampaikan.
Dengan berbagai macam hal
diatas, apabila dapat diterapkan dengan baik maka proses pengajaran akan
berjalan dengan baik dan efektif. Guru juga dapat menentukan metode pengajaran
yang sesuai dengan mata pelajaran yang disampaikanya.
Ø Problematika pada anak didik
Problematika yang
selanjutnya adalah problematika yang dihadapi oleh anak didik atau siswa. Siswa
juga mengalami banyak problem dalam belajarnya. Ada hal-hal yang dapat
mempengaruhi belajar siswa, yang secara umum ada dua faktor yang
mempengaruhinya yaitu faktor intern dan ekstern[7] hal itu juga sama persis dengan apa yang
disampaikan oleh Drs.Slameto.[8]
Problematika yang ada pada siswa juga berkaitan dengan faktor yang ada baik
intern maupun ekstern.
3. Solusi yang dilakukan untuk mengatasi masalah dalam
pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo Jakenan Pati
Ø Solusi terhadap Problematika pada Guru khususnya yang berhubungan dengan
Penguasaan Materi
Usaha yang dilakukan untuk mengatasi problem yang timbul dalam
penyampaian materi Akidah akhlak di MI Miftahul Huda antara lain:
1) Dalam penyampaian materi
pembelajaran akidah akhlak, guru lebih mengutamakan/memilih materi pelajaran
yang penting atau dengan menyampaikan inti materi, sehingga materi pelajaran
yang harus disampaikan dapat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
2) Guru mengusahakan agar siswa dapat tertarik dan memahami materi
pelajaran yang disampaikan. Sehingga bagi siswa yang kemampuannya lebih, tidak
merasa terlalu mudah dan bagi siswa yang kurang, tidak terlalu asing dalam
menerima materi pelajaran aqidah.
3) Mengingat waktu yang terbatas, dalam menyampaikan materi akidah
akhlak, guru juga memperbanyak kegiatan yang bersifat religius seperti upacara
peringatan keagamaan, antara lain berdo’a, sholat berjama’ah.
Ø Solusi terhadap Problematika yang Berhubungan dengan Pengelolaan
Kelas dan Metode Pembelajaran
Pada prinsipnya guru harus
memiliki tiga kompetensi yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi penguasaan
atas bahan dan kompetensi dalam cara belajar mengajar”.[9] Usaha optimalisasi kreatifitas guru akan
menjawab permasalahan pemilihan metode pengajaran bantu dalam proses belajar
mengajar di kelas. Kreatifitas merupakan salah satu kompetensi yang harus
dikuasai oleh guru sehingga guru tidak akan menyerah apabila ada
kendala-kendala yang menghambat proses pembelajaran.
Dalam penerapan metode
Akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo yang digunakan dalam suatu
kegiatan belajar mengajar, guru sebaiknya tidak hanya memakai satu metode saja.
Akan tetapi dalam satu jam pertemuan, guru bisa mengkombinasikan beberapa
metode yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Selama metode itu tidak
bertentangan, tidak akan menimbulkan masalah yang berarti. Dalam rangka
mengenalkan ilmu baca tulis al-Qur’an kepada siswa, guru sebaiknya tidak hanya
memakai metode baca simak saja, akan tetapi bisa dipadupadankan dengan metode
yang lainnya. Dengan seperti ini pelajaran di kelas tidak akan monoton dan
membosankan.
Ø Solusi terhadap Problematika pada anak didik
Ketidak ketertarikan siswa terhadap pembelajaran akidah akhlak di MI
Miftahul Huda Tondomulyo bisa diatasi dengan meningkatkan minat belajar siswa.
Usaha yang dilakukan dalam menumbuhkan minat siswa adalah:
a. Periksalah kondisi anak,
untuk mengetahui apakah segi ini menjadi sebab, cek kepada orang tua atau
guru-guru lain, apakah sikap dan tingkah laku tersebut hanya terdapat pada
pelajaran saudara atau juga ditunjukkan di kelas lain dan ketika diajar oleh
guru-guru yang lain.
b. Perhatikan anak diluar
kelas atau sekolah, untuk melihat apakah kegiatan yang diminati anak, hal ini
dapat dipakai sebagai titik tolak untuk menarik minat anak bagi
kegiatan-kegiatan yang lain.
c. Cobalah menemukan sesuatu
hal yang dapat menarik perhatian anak agar tergerak minatnya. Selain itu guru
harus memotivasi siswa, motivasi ini ada yang bersifat internal, yaitu yang
tumbuh dari dalam diri siswa, seperti rasa ingin tahu tentang materi yang
dipelajari, karena materi itu menarik baginya. Adalagi motivasi eksternal,
yaitu yang tumbuh akibat dari luar diri siswa. Misalnya siswa terdorong belajar
karena ingin mendapat pujian atau karena takut mendapat hukuman.
Beberapa cara memotivasi antara lain:
a. “Need analysis” yaitu
pemberian analisis tentang kebutuhan siterdidik, agar menyadari akan kebutuhan
masa depannya.
b. Menumbuhkan keingintahuan
dalam diri anak didik
c. Memberikan stimulus yang
dapat merangsang respon atau kegiatan murid.
d. Memvariasikan metode
mengajar dan penggunaan alat bantu mengajar.
e. Memberikan ganjaran dan
hukuman”.[10]
Problematika yang dihadapi
dalam pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo tentunya dapat
diatasi dengan kerjasama semua komponen yang ada di MI Miftahul Huda
Tondomulyo. Tidak bisa dalam mengatasi problematika yang dihadapi tersebut di
bebankan hanya pada kepala sekolah atau guru, karena problematika yang dihadapi
oleh sekolah cakupanya lebih besar seperti sarana dan prasarana, kurikulum dan
kebijakan pemerintah.
E. KESIMPULAN
Dari
uraian diatas, dapat penulis simpulkan bahwa:
1. Proses pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda
Tondomulyo dilakukan dengan merencanakan pembelajaran dilanjutkan dengan melaksanakan
pembelajaran dengan metode ceramah tanya jawab dan diakhiri dengan menutup
pelajaran.
2. Problematika yang di alami dalam pembelajaran akidah akhlak di
MI Miftahul Huda Tondomulyo diantaranya yaitu problematika pada guru,
problematika dalam pengelolaan kelas dan metode pembelajaran serta problematika
pada anak didik.
3. Solusi yang dilakukan untuk mengatasi masalah dalam
pembelajaran akidah akhlak di MI Miftahul Huda Tondomulyo yaitu dengan
merencanakan pembelajaran secara baik dan sesuai kebutuhan sekolah, penggunaaan
metode pembelajaran yang menciptkan pembelajaran aktif agar pembelajaran lebih
bermakna bagi siswa dan siswa tidak hanya menghafal materi pelajaran,
melaksanakan evaluasi pembelajaran yang baik, menyediakan media pembelajarn
yang dapat membantu memahamkan siswa dalam pembelajaran aqidah akhlak, penguasaan
materi dengan lebih banyak mengarahkan pemahaman materi dengan belajar aktif
siswa bukan mendikte, dan perlu kerja sama diantara kepala sekolah, guru dan
orang tua untuk meningkatkan pembelajaran siswa.
DAFTAR
PUSTAKA
Abudin
Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
Abdullah Nasih
Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam II terj. Saifullah
Kamalie dan Hery Nor Ali, Bandung: Asy-syIfa,1988.
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. Psikologi Belajar. Jakarta
: Rineka Cipta, 2004.
Djamaluddin Darwis, “Strategi Belajar Mengajar”, dalam Chabib
Thoha, Dkk (eds), PBM PAI
Disekolah Existensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam, Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 1998.
Hadirja Paraba, Wawasan Tenaga Guru dan Pembina Pendidikan Agama
Islam, Dep. Agama RI, Jakarta: Friska Agung Insani, 2000.
J Riberu, Dasar-Dasar Kepemimpinan. Jakarta: Dep. Agama RI,
Pedoman Ilmu Jaya, 1989.
Mustaqim, Psikologi
Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung:
Sinar Baru Algesindo, 1989.
Soenarjo,
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: Departemen Agama RI, 2006.
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta, 2003.
W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta:PT
Grasindo, 2002.
[1] Peraturan
Menteri Agama Republik Indonesia No. 2 Tahun 2008, Tentang Standar Kompetensi
Lulusan Dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam Dan Bahasa Arab di Madrasah, hlm.
21
[2]
Slameto,
Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. (Jakarta: Rineka Cipta,
2003), hlm. 31
[3]
Slameto,
Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, hlm. 33
[4] J
Riberu, Dasar-Dasar Kepemimpinan. (Jakarta: Dep. Agama RI, Pedoman Ilmu
Jaya,
1989), hlm. 62
[5] Hadirja
Paraba, Wawasan Tenaga Guru dan Pembina Pendidikan Agama Islam, Dep.
Agama
RI. (Jakarta: Friska Agung Insani, 2000), hlm. 14
[6]
Slameto, Belajar
dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, hlm. 92
[7] Abu
Ahmadi dan Widodo Supriyono. Psikologi Belajar. (Jakarta : Rineka Cipta,
2004),
hlm.
78
[8]
Slameto,
Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, hlm. 54
[9] Mustaqim, Psikologi
Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 92
[10]
Djamaluddin
Darwis, “Strategi Belajar Mengajar”, dalam Chabib Thoha, Dkk (eds),
PBM
PAI Disekolah Existensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam, (
Jogjakarta: Pustaka
Pelajar, 1998) hlm. 210
terima kasih
BalasHapusok
BalasHapus