PENGERTIAN PENDIDIKAN
1.
Pengertian Pendidikan berdasarkan Lingkupnya
a. Pendidikan dalam Arti Luas
Dalam arti luas, pendidikan adalah
hidup. Artinya, pendidikan adalah segala pengalaman (belajar) di berbagai
lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu.
Disadari maupun tidak disadari, pendidikan selalu diarahkan untuk
mencapai tujuan tertentu. Dalam arti luas, tujuan pendidikan terkandung dalam
setiap pengalaman belajar dan tidak ditentukan dari luar individu. Tujuan
pendidikan adalah pertumbuhan, jumlah tujuan pendidikan tidak terbatas. Tujuan
pendidikan sama dengan tujuan hidup (Redja Mudyahardjo, 2001).
b. Pendidikan dalam Arti Sempit
Dalam
arti sempit, pendidikan hanya berlangsung bagi mereka yang menjadi siswa pada
suatu madrasah atau mahasiswa pada suatu perguruan tinggi(lembaga pendidikan
formal). Pendidikan dilakukan dalam bentuk pengajaran (instruction) yang
terprogram dan bersifat formal. Pendidikan berlangsung disekolah atau didalam
lingkungan tertentu yang diciptakan secara sengaja dalam konteks kurikulum
sekolah yang bersangkutan.
Dalam
pengertian sempit, tujuan pendidikan ditentukan oleh pihak luar individu;
tujuan pendidikan terbatas pada pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu;
tujuan pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup di
masyarakat (Redja Mudyahardjo, 2001).
PERBANDINGAN PENGERTIAN PENDIDIKAN
BERDASARKAN LINGKUPNYA
|
HAL
|
PENGERTIAN LUAS
|
PENGERTIAN SEMPIT
|
|
Definisi
|
Pendidikan adalah hidup
|
Pendidikan adalah schooling; pengajaran formal yang
terkontrol
|
|
Tujuan
|
Melekat dalam tujuan hidup individu, tidak ditentukan dariluar
individu
|
Terbatas pada pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu;
mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup dimasyarakat; ditentukan oleh
pihak luar individu
|
|
Peserta Didik
|
Siapapun
|
siswa/mahasiswa
|
|
Waktu
|
Kapanpun; sepanjang hayat
|
Waktu tertentu, terjadwal, memiliki batas akhir /terminal
|
|
Tempat
|
Dimana pun
|
Lembaga pendidikan formal dalam berbagaibentuknya
|
|
Pendidik
|
Tidak terbatas pada pendidik profesional (guru/dosen).
|
Pendidik profesional (guru, dosen, dsb).
|
|
Bentuk Kegiatan Pendidikan
|
Berbagaikegiatan, peristiwa dan tindakan, baik yang pada awalnya
dimaksudkan untuk pendidikan maupun tidak.
|
Pengajaran di bawah kondisi-kondisi yang terkontrol.
|
2. Pengertian
Pendidikan berdasarkan Pendekatan Ilmiah
dan Pendekatan Sistem
a. Pengertian Pendidikan berdasarkan Pendekatan Ilmiah
Berdasarkan
pendekatanan antropologi, pendidikan dipandang identik dengan enkulturasi atau
pembudayaan, Berdasarkan pendekatan ekonomi( human investment)
Berdasarkan pendekatan sosiologiBerdasarkan pendekatan biologi, “Pendidikan
dalam artinya yang hakiki, ialah pemberian bimbingan dan bantuan rohanikepada
orang yang belum dewasa”. dan“mendidik berarti melakukan tindakan dengan
sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan”.menurut tinjauan pedagogik. M.J. Langeveld
dalam bukunya “Beknopte Theoritische Paedagogiek’’ (Simajuntak, 1980)
Jadi
pendidikan adalah suatu upaya yang dilakukan secara sengaja oleh orang dewasa
untuk membantu anak atau orang yang belum dewasa agar mencapaikedewasaan.
Unsur-unsur yang terlibat dalam pergaulan pendidikan itu adalah:
(1) Tujuan pendidikan.
(2) Pendidik.
(3) Anak Didik/Peserta Didik.
(4) IsiPendidikan (kurikulum).
(5) Alat Pendidikan.(6) Lingkungan Pendidikan.
b. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem (bisa di
katakan mentransformasi input menjadi out put).
ada
tiga jenis sumber input dari masyarakat bagisistem pendidikan, Menurut P.H.
Coombs (Odang Muchtar, 1976),yaitu;
1) ilmu pengetahuan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang berlaku di
dalam masyarakat;
2) penduduk serta tenaga kerja yang berkualitas;
3)
ekonomiatau penghasilan masyarakat.
Komponen sistem pendidikan tersebut
meliputi:
1) Tujuan dan prioritas.
Komponen ini berfungsiuntuk mengarahkan semua kegiatan sistem.
2) Siswa atau peserta didik.
Komponen ini berfungsi untuk belajar atau menjalani proses
pendidikan.
3) Pengelolaan atau management.
Komponen iniberfungsimengkoordinasikan, mengarahkan dan
menilaisistem pendidikan.
4) Struktur dan jadwal.
Komponen ini berfungsi mengatur waktu dan pengelompokan siswa
menurut tujuan-tujuan tertentu.
5) Isiatau kurikulum.
Komponen ini berfungsi sebagai bahan atau apa yang harus
dipelajari siswa.
6) Guru atau pendidik.
Komponen iniberfungsimembantu menyediakan bahan dan
menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (KBM) untuk siswa.
7) Alat bantu belajar.
Komponen ini berfungsi agar KBM menjadi lebih menarik, bervariasi
dan mudah.
8) Fasilitas.
Komponen ini berfungsi menyediakan tempat untuk terjadinya
kegiatan belajar mengajar (KBM).
9) Teknologi.
Komponen iniberfungsiuntuk memperlancar KBM.
10) Kontrol kualitas.
Komponen iniberfungsimembina sistem peraturan dan kriteria
pendidikan.
11) Penelitian.
Komponen iniberfungsiuntuk mengembangkan pengetahuan, penampilan
sistem, dan hasil kerja sistem.
12) Biaya.
Komponen ini berfungsi sebagai petunjuk tingkat efisiensi sistem
pendidikan.
Didalam sistem pendidikan berlangsung suatu proses pendidikan.
Proses inipada dasarnya merupakan interaksifungsional antar berbagaikomponen
pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan atau mentransformasi raw
input (siswa) menjadi out put pendidikan, adapun out put pendidikan
adalah manusia terdidik.
3.
Pendidikan sebagai Humanisasi
Pendidikan sebagai humanisasi
yang merupakan implikasi gagasan filosofis tentang hakikat manusia terhadap
pendidikan.yang dinyatakan Karl Japers bahwa: “to be a man
is to become a man” / ada sebagai manusia adalah menjadi manusia (Fuad
Hasan, 1973). Adapun manusia akan dapat menjadi manusia hanya melalui
pendidikan. Implikasinya maka pendidikan tiada lain adalah humanisasi (upaya
memanusiakan manusia). Sasaran pendidikan hakikatnya
adalah manusia sebagai kesatuan yang terintegrasi.
Tujuan pendidikan itu
tiada lain adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt.,
berakhlak mulia, sehat, cerdas, berperasaan, berkemauan, dan mampu berkarya;
mampu memenuhiberbagaikebutuhannya secara wajar, mampu mengendalikan hawa
nafsunya; berkepribadian, bermasyarakat dan berbudaya. Inilah manusia ideal
atau manusia yang dicita-citakan yang ingin dicapaimelalui pendidikan.
Implikasinya, pendidikan harus berfungsi untuk mewujudkan (mengembangkan)
berbagai potensi yang ada pada manusia dalam konteks
dimensi keberagamaan, moralitas,
individualitas/personalitas, sosialitas, dan keberbudayaan secara menyeluruh
dan terintegrasi. Dengan kata lain, pendidikan berfungsiuntuk memanusiakan manusia.
Pendidikan diarahkan menuju terwujudnya manusia ideal, sebab itu pendidikan
bersifat normatif. Implikasinya, sesuatu tindakan dapat digolongkan ke
dalam upaya pendidikan apabila tindakan itu diarahkan menuju terwujudnya
manusia ideal. Pendidikan hendaknya tidak direduksi menjadi sebatas pengajaran
saja. Pengajaran memang tergolong ke dalam salah satu bentuk upaya bantuan yang
diberikan kepada peserta didik, tetapi upaya initerbatas hanya dalam rangka
untuk menguasaidan mengembangkan pengetahuan semata. Pendidikan jangan
direduksi menjadi sebatas latihan saja, sebab latihan hanya diarahkan dalam
rangka menguasai keterampilan saja. Pendidikan jangan pula direduksi menjadi
hanya sebatas sosialisasi atau enkulturasi saja, personalisasi saja, human
investment atau untuk menghasilkan tenaga kerja saja, dst. Sebagai
humanisasi pendidikan seyogyanya meliputiberbagaibentuk kegiatan dalam upaya
mengembangkan berbagai potensi manusia dalam konteks dimensi keberagamaan, moralitas, individualitas/personalitas, sosialitas,
dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi.
Humanisasi bukanlah pembentukan peserta
didik atas
dasar kehendak sepihak daripendidik. Peserta didik bukanlah objek yang harus
dibentuk oleh pendidik. Alasannya, bahwa peserta didik hakikatnya adalah subjek
yang otonom. Kita harus menyadari prinsip individualitas/personalitas ini.
Sesuai dengan prinsip ini bahwa yang berupaya mewujudkan potensi kemanusiaan
itu adalah peserta didik sendiri. Bahwa yang berupaya meng-ada-kan atau
mengaktualisasikan diri itu hakikatnya adalah peserta didik sendiri.
Sifat pendidikan yang normatif dan dimensimoralitas
mengiplikasikan bahwa pendidikan hanyalah bagi manusia, tidak ada
pendidikan bagi khewan. Manusia dididik untuk menjadi manusia yang baik,
berperilaku baik atau berakhlak mulia . Di pihak lain, manusia memiliki potensi untuk
mampu berbuat baik, ia dibekali kata hatiuntuk dapat membedakan perbuatan baik dan jahat. Sebab
itu, manusia akan mungkin dididik untuk tujuan tadi. Sementara khewan tidak
memiliki kemampuan untuk membedakan baik atau tidak baiknya suatu perbuatan,
tingkah laku khewan tidak dapat dinilai baik ataupun jahat. Sebab itu, istilah
dan makna pendidikan tidak berlaku untuk khewan.
4.
Pengertian Tarbiyah dan Ta’lim (Pendidikan) menurut Islam
Istilah pendidikan dalam konteks Islam mengacu kepada istilah tarbiyah
dan ta’lim. Dalam hal tertentu kedua istilah tersebut memilikikesamaan
makna., tetapisecara esensial setiap istilah tersebut memilikiperbedaan makna
(Abdul Fattah Jalal, 1988).
a. Tarbiyah
Sebagaimana dikemukakan Abdurrahman an-Nahlawi(1989), menurut
kamus bahasa Arab, lafal at-Tarbiyah berasal daritiga kata: (1) raba
yarbu, artinya: bertambah dan tumbuh; (2) rabiya yarba dengan wazn
(bentuk) khafiya yakhfa, artinya: menjadi besar; (3) rabba yarubu
dengan wazn (bentuk) madda yamuddu, yang berarti:
memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga dan memelihara.
Selanjutnya An-Nahlawi mengemukakan bahwa beberapa pengkaji telah
menyusun definisi pendidikan dari ketiga asal kata di atas. Imam al-Baidlawi
(wafat 685 H) di dalam tafsirnya “Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil” menyatakan:
“Makna asal ar-Rabb adalah at-Tarbiyah, yaitu: menyampaikan
sesuatu sedikit demisedikit hingga sempurna. Kemudian kata itu dijadikan sifat
Allah swt. sebagai mubalaghah (penekanan). Disamping itu, ar-Raghib
al-Asfahani(wafat 502 H) menyatakan bahwa: “makna asal ar-Rabb adalah at-Tarbiyah,
yaitu memelihara sesuatu sedikit demisedikit hingga sempurna”.
Dari ketiga asal kata diatas Abdurrahman al-Banimenyimpulkan, bahwa
pendidikan (at-Tarbiyah) terdiri atas empat unsur, yaitu:
(1) Menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang baligh.
(2) Mengembangkan seluruh potensi dan kesiapan yang
bermacam-macam.
(3) Mengarahkan seluruh fitrah dan potensi ini menuju kepada
kebaikan dan kesempurnaan yang layak baginya.
(4) Proses itu dilaksanakan secara bertahap, sebagaimana
diisyaratkan oleh al-Baidlawi dan
ar-Raghib dengan “sedikit demisedikit”.
Berdasar semua uraian diatas, Abdurrahman an-Nahlawi(1989:32-33)
menarik empat kesimpulan asasi dalam
memahami makna pendidikan, yaitu: Pertama,
pendidikan adalah proses yang mempunyai tujuan dan objek. Kedua, secara
mutlak, pendidik yang sebenarnya hanyalah Allah, Pencipta fitrah dan Pemberi
berbagai potensi. Dia-lah Yang memberlakukan hukum dan tahapan perkembangan
serta interaksinya, dan hukum-hukum untuk mewujudkan kesempurnaan kebaikan
serta kebahagiaan. Ketiga, Pendidikan menunut adanya langkah-langkah
yang secara bertahap harus dilaluioleh berbagai kegiatan pendidikan dan
pengajaran, sesuai dengan urutan yang telah disusun secara sistematis. Anak
melakukan itu fase demifase. Keempat, kerja pendidik harus
mengikutiaturan penciptaan dan pengadaan yang dilakukan Allah, sebagaimana
harus mengikutisyara’ dan Din Allah.
b. Ta’lim
Al-Rasyid dan Syamsul Nizar (2005) mengemukakan bahwa istilah al-Ta’lim
telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam. Menurut
para ahli, kata inilebih bersifat universal dibanding dengan al-Tarbiyah. Rasyid
Ridla, misalnya mengartikan al-Ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu
pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.
Argumentasinya didasarkan pada ayat al-Quran, yaitu Q.S. Al-Baqarah/2:151.
Sehubungan dengan ayat pada surat Al Baqarah di atas, menurut Abdul Fattah
Jalal (1988), bahwa Islam memandang proses ta’lim lebih universal
daripada tarbiyah. Sebab, ketika mengajarkan tilawatul Quran kepada kaum
muslimin, Rasulullah saw. tidak terbatas pada membuat mereka sekedar dapat
membaca saja, melainkan “membaca dengan perenungan” yang berisikan pemahaman,
pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah. Dari membaca semacam ini,
Rasul membawa mereka kepada tazkiyah (pensucian) yaitu pensucian dan
pembersihan dirimanusia darisegala kotoran, dan menjadikan diri itu berada
dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta
mempelajari segala apa yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya.
Dengan mengacu kepada Q.S. al-Isra/17:24 dan Q.S. as-Syura/26:18
selanjutnya Abdul Fattah Jalal menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Tarbiyah
ialah proses persiapan dan pengasuhan pada fase pertama pertumbuhan manusia,
atau menurut istilah yang kita gunakan dewasa iniadalah pada fase bayidan
kanak-kanak. Penggunaan kata tarbiyah pada ayat pertama menunjukkan, bahwa
pendidikan pada fase ini menjadi tanggung jawab keluarga. Orang tua – khususnya
Ibu dan ayah - bertanggung jawab mengasuh dan mengasihianak yang masih kecil
dan berada dalam situasiketergantungan. Adapun ta’lim lebih luas
daripendidikan pada fase kanak-kanak. Ta’lim merupakan suatu proses yang harus
terus menerus diusahakan manusia semenjak dilahirkan.
Kecenderungan Abdul Fattah Jalal sebagaimana dikemukakan diatas,
didasarkan pada argumentasi bahwa manusia pertama yang mendapatkan pengajaran
langsung dari Allah adalah nabi Adam a.s.
Dari seluruh keterangan di atas, terungkap jelas bahwa menurut
konsep islam, istilah ta’lim lebih luas jangkauannya dan lebih umum sifatnya
daripada tarbiyah yang khusus berlaku bagianak kecil. Namundemikian, dapat
dipahamidalam konteks inibahwa pendidikan hendaknya diarahkan agar seseorang
(peserta didik) dapat berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.
KESIMPULAN
Dalam arti luas, pendidikan adalah hidup, sedangkan dalam arti sempit
identik dengan schooling. Kedua pengertian pendidikan tersebut memiliki karakteristik
masing-masing.
Berdasarkan pendekatan ilmiah, ada beberapa konsep/istilah yang
dipandang mengandung makna identik dengan pendidikan, yaitu: sosialisasi,
enkulturasi, civilisasi, adaptasi, individualisasi/personalisasi, human
investment dsb. Sedangkan menurut sudut pandang pedagogik pendidikan
diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan orang dewasa dalam membantu anak untuk
mecapai kedewasaan. Adapun berdasarkan pendekatan sistem, pendidikan
didefinisikan sebagai keseluruhan terpadu dari berbagai komponen yang saling
berinteraksi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Berdasarkan pendekatan religius (Islam), ada dua istilah yang
memiliki makna pendidikan, yaitu tarbiyah dan ta’lim. Kedua
istilah ini memang memiliki kesamaan arti, tetapi juga memiliki perbedaan. Tarbiyah berkenaan
dengan pendidikan anak-anak, sedangkan ta’lim memilki pengertian yang lebih
luas jangkauannya.
Adanya keragaman pengertian
pendidikan merupakan bukti adanya
berbagaipihak yang menaruh perhatian terhadap pendidikan, ini tiada lain mengingat begitu pentingnya
pendidikan dalam rangka eksisitensi manusia.
Tetapiberbagaipengertian pendidikan tersebut hendaknya tidak kita pahami secara parsial, berbagai pengertian tersebut pada dasarnya saling
melengkapi mengingat pendidikan itu
hakikatnya adalah humanisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar