Selasa, 05 April 2016

makalah pengertian pendidikan

PENGERTIAN PENDIDIKAN

1. Pengertian Pendidikan berdasarkan Lingkupnya
a. Pendidikan dalam Arti Luas
Dalam arti luas, pendidikan adalah hidup. Artinya, pendidikan adalah segala pengalaman (belajar) di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu.
Disadari maupun tidak disadari, pendidikan selalu diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam arti luas, tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar dan tidak ditentukan dari luar individu. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan, jumlah tujuan pendidikan tidak terbatas. Tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup (Redja Mudyahardjo, 2001).
b. Pendidikan dalam Arti Sempit
Dalam arti sempit, pendidikan hanya berlangsung bagi mereka yang menjadi siswa pada suatu madrasah atau mahasiswa pada suatu perguruan tinggi(lembaga pendidikan formal). Pendidikan dilakukan dalam bentuk pengajaran (instruction) yang terprogram dan bersifat formal. Pendidikan berlangsung disekolah atau didalam lingkungan tertentu yang diciptakan secara sengaja dalam konteks kurikulum sekolah yang bersangkutan.
Dalam pengertian sempit, tujuan pendidikan ditentukan oleh pihak luar individu; tujuan pendidikan terbatas pada pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu; tujuan pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup di masyarakat (Redja Mudyahardjo, 2001).
PERBANDINGAN PENGERTIAN PENDIDIKAN
BERDASARKAN LINGKUPNYA

HAL
PENGERTIAN LUAS
PENGERTIAN SEMPIT
Definisi
Pendidikan adalah hidup
Pendidikan adalah schooling; pengajaran formal yang terkontrol
Tujuan
Melekat dalam tujuan hidup individu, tidak ditentukan dariluar individu
Terbatas pada pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu; mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup dimasyarakat; ditentukan oleh pihak luar individu
Peserta Didik
Siapapun
siswa/mahasiswa
Waktu
Kapanpun; sepanjang hayat
Waktu tertentu, terjadwal, memiliki batas akhir /terminal
Tempat
Dimana pun
Lembaga pendidikan formal dalam berbagaibentuknya
Pendidik
Tidak terbatas pada pendidik profesional (guru/dosen).
Pendidik profesional (guru, dosen, dsb).
Bentuk Kegiatan Pendidikan

Berbagaikegiatan, peristiwa dan tindakan, baik yang pada awalnya dimaksudkan untuk pendidikan maupun tidak.
Pengajaran di bawah kondisi-kondisi yang terkontrol.

2. Pengertian Pendidikan berdasarkan Pendekatan Ilmiah
    dan Pendekatan Sistem
a.       Pengertian Pendidikan berdasarkan Pendekatan Ilmiah
Berdasarkan pendekatanan antropologi, pendidikan dipandang identik dengan enkulturasi atau pembudayaan, Berdasarkan pendekatan ekonomi( human investment) Berdasarkan pendekatan sosiologiBerdasarkan pendekatan biologi, “Pendidikan dalam artinya yang hakiki, ialah pemberian bimbingan dan bantuan rohanikepada orang yang belum dewasa”. dan“mendidik berarti melakukan tindakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan”.menurut  tinjauan pedagogik. M.J. Langeveld dalam bukunya “Beknopte Theoritische Paedagogiek’’ (Simajuntak, 1980)
Jadi pendidikan adalah suatu upaya yang dilakukan secara sengaja oleh orang dewasa untuk membantu anak atau orang yang belum dewasa agar mencapaikedewasaan.
Unsur-unsur yang terlibat dalam pergaulan pendidikan itu adalah:
(1) Tujuan pendidikan.
(2) Pendidik.
(3) Anak Didik/Peserta Didik.
(4) IsiPendidikan (kurikulum).
(5) Alat Pendidikan.(6) Lingkungan Pendidikan.

b. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem (bisa di katakan mentransformasi input menjadi out put).
ada tiga jenis sumber input dari masyarakat bagisistem pendidikan, Menurut P.H. Coombs (Odang Muchtar, 1976),yaitu;
1) ilmu pengetahuan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang berlaku di dalam masyarakat;
2) penduduk serta tenaga kerja yang berkualitas;
3) ekonomiatau penghasilan masyarakat.
Komponen sistem pendidikan tersebut meliputi:
1) Tujuan dan prioritas.
Komponen ini berfungsiuntuk mengarahkan semua kegiatan sistem.
2) Siswa atau peserta didik.
Komponen ini berfungsi untuk belajar atau menjalani proses pendidikan.
3) Pengelolaan atau management.
Komponen iniberfungsimengkoordinasikan, mengarahkan dan menilaisistem pendidikan.
4) Struktur dan jadwal.
Komponen ini berfungsi mengatur waktu dan pengelompokan siswa menurut tujuan-tujuan tertentu.
5) Isiatau kurikulum.
Komponen ini berfungsi sebagai bahan atau apa yang harus dipelajari siswa.
6) Guru atau pendidik.
Komponen iniberfungsimembantu menyediakan bahan dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (KBM) untuk siswa.
7) Alat bantu belajar.
Komponen ini berfungsi agar KBM menjadi lebih menarik, bervariasi dan mudah.
8) Fasilitas.
Komponen ini berfungsi menyediakan tempat untuk terjadinya kegiatan belajar mengajar (KBM).
9) Teknologi.
Komponen iniberfungsiuntuk memperlancar KBM.
10) Kontrol kualitas.
Komponen iniberfungsimembina sistem peraturan dan kriteria pendidikan.
11) Penelitian.
Komponen iniberfungsiuntuk mengembangkan pengetahuan, penampilan sistem, dan hasil kerja sistem.
12) Biaya.
Komponen ini berfungsi sebagai petunjuk tingkat efisiensi sistem pendidikan.

Didalam sistem pendidikan berlangsung suatu proses pendidikan. Proses inipada dasarnya merupakan interaksifungsional antar berbagaikomponen pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan atau mentransformasi raw input (siswa) menjadi out put pendidikan, adapun out put pendidikan adalah manusia terdidik.
3. Pendidikan sebagai Humanisasi
Pendidikan sebagai humanisasi yang merupakan implikasi gagasan filosofis tentang hakikat manusia terhadap pendidikan.yang  dinyatakan Karl Japers bahwa: “to be a man is to become a man” / ada sebagai manusia adalah menjadi manusia (Fuad Hasan, 1973). Adapun manusia akan dapat menjadi manusia hanya melalui pendidikan. Implikasinya maka pendidikan tiada lain adalah humanisasi (upaya memanusiakan manusia). Sasaran pendidikan hakikatnya adalah manusia sebagai kesatuan yang terintegrasi.
Tujuan pendidikan itu tiada lain adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt., berakhlak mulia, sehat, cerdas, berperasaan, berkemauan, dan mampu berkarya; mampu memenuhiberbagaikebutuhannya secara wajar, mampu mengendalikan hawa nafsunya; berkepribadian, bermasyarakat dan berbudaya. Inilah manusia ideal atau manusia yang dicita-citakan yang ingin dicapaimelalui pendidikan. Implikasinya, pendidikan harus berfungsi untuk mewujudkan (mengembangkan) berbagai potensi yang ada pada manusia dalam konteks dimensi keberagamaan, moralitas, individualitas/personalitas, sosialitas, dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi. Dengan kata lain, pendidikan berfungsiuntuk memanusiakan manusia.
Pendidikan diarahkan menuju terwujudnya manusia ideal, sebab itu pendidikan bersifat normatif. Implikasinya, sesuatu tindakan dapat digolongkan ke dalam upaya pendidikan apabila tindakan itu diarahkan menuju terwujudnya manusia ideal. Pendidikan hendaknya tidak direduksi menjadi sebatas pengajaran saja. Pengajaran memang tergolong ke dalam salah satu bentuk upaya bantuan yang diberikan kepada peserta didik, tetapi upaya initerbatas hanya dalam rangka untuk menguasaidan mengembangkan pengetahuan semata. Pendidikan jangan direduksi menjadi sebatas latihan saja, sebab latihan hanya diarahkan dalam rangka menguasai keterampilan saja. Pendidikan jangan pula direduksi menjadi hanya sebatas sosialisasi atau enkulturasi saja, personalisasi saja, human investment atau untuk menghasilkan tenaga kerja saja, dst. Sebagai humanisasi pendidikan seyogyanya meliputiberbagaibentuk kegiatan dalam upaya mengembangkan berbagai potensi manusia dalam konteks dimensi keberagamaan, moralitas, individualitas/personalitas, sosialitas, dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi.
Humanisasi bukanlah pembentukan peserta didik atas dasar kehendak sepihak daripendidik. Peserta didik bukanlah objek yang harus dibentuk oleh pendidik. Alasannya, bahwa peserta didik hakikatnya adalah subjek yang otonom. Kita harus menyadari prinsip individualitas/personalitas ini. Sesuai dengan prinsip ini bahwa yang berupaya mewujudkan potensi kemanusiaan itu adalah peserta didik sendiri. Bahwa yang berupaya meng-ada-kan atau mengaktualisasikan diri itu hakikatnya adalah peserta didik sendiri.
Sifat pendidikan yang normatif dan dimensimoralitas mengiplikasikan bahwa pendidikan hanyalah bagi manusia, tidak ada pendidikan bagi khewan. Manusia dididik untuk menjadi manusia yang baik, berperilaku baik atau berakhlak mulia . Di pihak lain, manusia memiliki potensi untuk mampu berbuat baik, ia dibekali kata hatiuntuk dapat membedakan perbuatan baik dan jahat. Sebab itu, manusia akan mungkin dididik untuk tujuan tadi. Sementara khewan tidak memiliki kemampuan untuk membedakan baik atau tidak baiknya suatu perbuatan, tingkah laku khewan tidak dapat dinilai baik ataupun jahat. Sebab itu, istilah dan makna pendidikan tidak berlaku untuk khewan.

4. Pengertian Tarbiyah dan Ta’lim (Pendidikan) menurut Islam
Istilah pendidikan dalam konteks Islam mengacu kepada istilah tarbiyah dan ta’lim. Dalam hal tertentu kedua istilah tersebut memilikikesamaan makna., tetapisecara esensial setiap istilah tersebut memilikiperbedaan makna (Abdul Fattah Jalal, 1988).
a. Tarbiyah
Sebagaimana dikemukakan Abdurrahman an-Nahlawi(1989), menurut kamus bahasa Arab, lafal at-Tarbiyah berasal daritiga kata: (1) raba yarbu, artinya: bertambah dan tumbuh; (2) rabiya yarba dengan wazn (bentuk) khafiya yakhfa, artinya: menjadi besar; (3) rabba yarubu dengan wazn (bentuk) madda yamuddu, yang berarti: memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga dan memelihara.
Selanjutnya An-Nahlawi mengemukakan bahwa beberapa pengkaji telah menyusun definisi pendidikan dari ketiga asal kata di atas. Imam al-Baidlawi (wafat 685 H) di dalam tafsirnya “Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil” menyatakan: “Makna asal ar-Rabb adalah at-Tarbiyah, yaitu: menyampaikan sesuatu sedikit demisedikit hingga sempurna. Kemudian kata itu dijadikan sifat Allah swt. sebagai mubalaghah (penekanan). Disamping itu, ar-Raghib al-Asfahani(wafat 502 H) menyatakan bahwa: “makna asal ar-Rabb adalah at-Tarbiyah, yaitu memelihara sesuatu sedikit demisedikit hingga sempurna”.
Dari ketiga asal kata diatas Abdurrahman al-Banimenyimpulkan, bahwa pendidikan (at-Tarbiyah) terdiri atas empat unsur, yaitu:
(1) Menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang baligh.
(2) Mengembangkan seluruh potensi dan kesiapan yang bermacam-macam.
(3) Mengarahkan seluruh fitrah dan potensi ini menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan yang   layak baginya.
(4) Proses itu dilaksanakan secara bertahap, sebagaimana diisyaratkan oleh al-Baidlawi dan ar-Raghib dengan “sedikit demisedikit”.
Berdasar semua uraian diatas, Abdurrahman an-Nahlawi(1989:32-33) menarik empat kesimpulan asasi dalam memahami makna pendidikan, yaitu: Pertama, pendidikan adalah proses yang mempunyai tujuan dan objek. Kedua, secara mutlak, pendidik yang sebenarnya hanyalah Allah, Pencipta fitrah dan Pemberi berbagai potensi. Dia-lah Yang memberlakukan hukum dan tahapan perkembangan serta interaksinya, dan hukum-hukum untuk mewujudkan kesempurnaan kebaikan serta kebahagiaan. Ketiga, Pendidikan menunut adanya langkah-langkah yang secara bertahap harus dilaluioleh berbagai kegiatan pendidikan dan pengajaran, sesuai dengan urutan yang telah disusun secara sistematis. Anak melakukan itu fase demifase. Keempat, kerja pendidik harus mengikutiaturan penciptaan dan pengadaan yang dilakukan Allah, sebagaimana harus mengikutisyara’ dan Din Allah.
b. Ta’lim
Al-Rasyid dan Syamsul Nizar (2005) mengemukakan bahwa istilah al-Ta’lim telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam. Menurut para ahli, kata inilebih bersifat universal dibanding dengan al-Tarbiyah. Rasyid Ridla, misalnya mengartikan al-Ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Argumentasinya didasarkan pada ayat al-Quran, yaitu Q.S. Al-Baqarah/2:151. Sehubungan dengan ayat pada surat Al Baqarah di atas, menurut Abdul Fattah Jalal (1988), bahwa Islam memandang proses ta’lim lebih universal daripada tarbiyah. Sebab, ketika mengajarkan tilawatul Quran kepada kaum muslimin, Rasulullah saw. tidak terbatas pada membuat mereka sekedar dapat membaca saja, melainkan “membaca dengan perenungan” yang berisikan pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah. Dari membaca semacam ini, Rasul membawa mereka kepada tazkiyah (pensucian) yaitu pensucian dan pembersihan dirimanusia darisegala kotoran, dan menjadikan diri itu berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari segala apa yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya.
Dengan mengacu kepada Q.S. al-Isra/17:24 dan Q.S. as-Syura/26:18 selanjutnya Abdul Fattah Jalal menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Tarbiyah ialah proses persiapan dan pengasuhan pada fase pertama pertumbuhan manusia, atau menurut istilah yang kita gunakan dewasa iniadalah pada fase bayidan kanak-kanak. Penggunaan kata tarbiyah pada ayat pertama menunjukkan, bahwa pendidikan pada fase ini menjadi tanggung jawab keluarga. Orang tua – khususnya Ibu dan ayah - bertanggung jawab mengasuh dan mengasihianak yang masih kecil dan berada dalam situasiketergantungan. Adapun ta’lim lebih luas daripendidikan pada fase kanak-kanak. Ta’lim merupakan suatu proses yang harus terus menerus diusahakan manusia semenjak dilahirkan.
Kecenderungan Abdul Fattah Jalal sebagaimana dikemukakan diatas, didasarkan pada argumentasi bahwa manusia pertama yang mendapatkan pengajaran langsung dari Allah adalah nabi Adam a.s.
Dari seluruh keterangan di atas, terungkap jelas bahwa menurut konsep islam, istilah ta’lim lebih luas jangkauannya dan lebih umum sifatnya daripada tarbiyah yang khusus berlaku bagianak kecil. Namundemikian, dapat dipahamidalam konteks inibahwa pendidikan hendaknya diarahkan agar seseorang (peserta didik) dapat berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.
KESIMPULAN

Dalam arti luas, pendidikan adalah hidup, sedangkan dalam arti sempit identik dengan schooling. Kedua pengertian pendidikan tersebut memiliki karakteristik masing-masing.
Berdasarkan pendekatan ilmiah, ada beberapa konsep/istilah yang dipandang mengandung makna identik dengan pendidikan, yaitu: sosialisasi, enkulturasi, civilisasi, adaptasi, individualisasi/personalisasi, human investment dsb. Sedangkan menurut sudut pandang pedagogik pendidikan diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan orang dewasa dalam membantu anak untuk mecapai kedewasaan. Adapun berdasarkan pendekatan sistem, pendidikan didefinisikan sebagai keseluruhan terpadu dari berbagai komponen yang saling berinteraksi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Berdasarkan pendekatan religius (Islam), ada dua istilah yang memiliki makna pendidikan, yaitu tarbiyah dan ta’lim. Kedua istilah ini memang memiliki kesamaan arti, tetapi juga memiliki perbedaan. Tarbiyah berkenaan dengan pendidikan anak-anak, sedangkan ta’lim memilki pengertian yang lebih luas jangkauannya.

Adanya keragaman pengertian pendidikan merupakan bukti adanya berbagaipihak yang menaruh perhatian terhadap pendidikan, ini tiada lain mengingat begitu pentingnya pendidikan dalam rangka eksisitensi manusia. Tetapiberbagaipengertian pendidikan tersebut hendaknya tidak kita pahami secara parsial, berbagai pengertian tersebut pada dasarnya saling melengkapi mengingat pendidikan itu hakikatnya adalah humanisasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar